Awas! 745.000 Orang Per Tahun Tewas Akibat Kelebihan Jam Kerja
Selasa, 18 Mei 2021 - 06:11 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: WFH Tingkatkan Risiko Kematian? OPSI: Jangan Lebih dari 40 Jam Seminggu
Seperti contohnya penggunaan tembakau dan alkohol, lebih sedikit tidur dan olahraga, dan diet yang tidak sehat. Andrew Falls, 32 tahun, seorang insinyur layanan yang berbasis di Leeds, mengatakan sebelumnya menjalani berjam-jam dalam bekerja hingga akhirnya kesehatan mental dan fisiknya menjadi korban.
"Lima puluh sampai 55 jam minggu merupakan hal yang normal. Saya juga jauh dari rumah selama berminggu-minggu," cerita Andrew Falls.
"Lalu dampaknya stres, depresi, kecemasan, itu menjadi umpan balik yang buruk. Aku dalam keadaan yang terus-menerus tertekan," ungkapnya.
Setelah 5 Tahun, Ia memilih meninggalkan pekerjaan untuk memperdalam software engineer. Jumlah orang yang bekerja selama berjam-jam meningkat sebelum pandemi melanda, dimana menurut catatan WHO, ada sekitar 9% dari total populasi global.
Seperti contohnya penggunaan tembakau dan alkohol, lebih sedikit tidur dan olahraga, dan diet yang tidak sehat. Andrew Falls, 32 tahun, seorang insinyur layanan yang berbasis di Leeds, mengatakan sebelumnya menjalani berjam-jam dalam bekerja hingga akhirnya kesehatan mental dan fisiknya menjadi korban.
"Lima puluh sampai 55 jam minggu merupakan hal yang normal. Saya juga jauh dari rumah selama berminggu-minggu," cerita Andrew Falls.
"Lalu dampaknya stres, depresi, kecemasan, itu menjadi umpan balik yang buruk. Aku dalam keadaan yang terus-menerus tertekan," ungkapnya.
Setelah 5 Tahun, Ia memilih meninggalkan pekerjaan untuk memperdalam software engineer. Jumlah orang yang bekerja selama berjam-jam meningkat sebelum pandemi melanda, dimana menurut catatan WHO, ada sekitar 9% dari total populasi global.
(akr)
Lihat Juga :