Lebih Dari Lima Dekade, PT Vale Jaga Keberlanjutan untuk Masa Depan
Minggu, 25 Juli 2021 - 10:11 WIB
loading...
Presiden Direktur PT Vale Febriany Eddy melakukan penanaman pohon untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Foto: Dok PT Vale
A
A
A
SOROWAKO - PT Vale Indonesia Tbk tidak hanya menjadi perusahaan multinasional dan bonafid, tetapi juga memiliki nilai-nilai dan praktik operasional yang mumpuni. Perseroan ini begitu maju dalam aspek sustainability (keberlanjutan), baik secara ekonomi, lingkungan maupun sosial.
Komitmen tersebut terus dijaga hingga lebih dari lima dekade atau 53 tahun untuk masa depan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang berada di base operasional perusahaan di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Dalam bisnis dan operasinya, PT Vale mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) melalui praktik penambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan terhadap lingkungan dan masyarakat.
![Lebih Dari Lima Dekade, PT Vale Jaga Keberlanjutan untuk Masa Depan]()
53 Tahun beroperasi di Indonesia, PT Vale memproduksi nickel matte 75.000 ton pertahun, memasok 5% kebutuhan nikel dunia. Tak hanya itu, PT Vale Indonesia berkomitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan merupakan upaya untuk mewujudkan sasaran menjadi sustainable operator, value contributor dan obedient citizen.
"Kami memegang teguh komitmen menjaga kelestarian bumi, sesuai dengan salah satu nilai kami, yakni menjaga kelestarian bumi. Kami menjalankan kegiatan penambangan dan pengolahan bijih nikel dengan melaksanakan praktik-praktik terbaik didukung penerapan teknologi ramah lingkungan. Perseroan berupaya agar tidak menimbulkan dampak negatif, baik di dalam maupun di luar wilayah operasi," kata CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Tbk, Febriany Eddy.
PT Vale berkomitmen melakukannya dengan memberikan dukungan pada peningkatan kualitas kehidupan dan mendukung pengurangan emisi karbon. “Kami ingin terus berkontribusi. Kami ingin terus menginspirasi. Kami ingin meningkatkan kualitas kehidupan bagi generasi yang akan datang,” katanya.
![Lebih Dari Lima Dekade, PT Vale Jaga Keberlanjutan untuk Masa Depan]()
Dalam laporan keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk 2020, perseroan yang didirikan pada 25 Juli 1968 telah merumuskan Prioritas Strategis dengan lima pilar yakni kesehatan, keselamatan dan risiko, sumber daya manusia, keberlanjutan, pemeliharaan dan pertumbuhan.
“Prioritas Strategis dijalankan mulai tahun 2020 hingga 3-5 tahun ke depan. Tujuannya adalah menancapkan pondasi yang kokoh untuk dicapai di 2030 dan 2050, yang bermuara pada PT Vale yang lebih aman, andal, kompetitif, berkelanjutan, dan dicintai masyarakat,” kata Febriany Eddy.
Program Keberlanjutan
Menyadari betapa pentingnya program berkelanjutan untuk diterapkan, PT Vale Indonesia Tbk menghadirkan sejumlah inovasi demi mewujudkan komitmen tersebut dari multisektor.
Program keberlanjutan tersebut meliputi, produksi nikel berbasis energi bersih, pertambangan hijau yang terintegrasi, pengolahan limbah berteknologi tinggi, Program Pengembangan Masyarakat (PPM), meningkatkan tata kelola perusahaan secara berkelanjutan serta dukungan terhadap penanggulangan COVID-19.
*Produksi nikel berbasis energi bersih
Sejak tahun-tahun awal perusahaan berdiri telah memulai dengan membangun dan mengoperasikan PLTA Larona (1979), PLTA Balambano (1999) dan PLTA Karebbe (2011) dengan total kapasitas terpasang sebesar 365 megawatt untuk menyuplai energi ke pabrik pengolahan.
Berkat PLTA tersebut, PT Vale mampu mengurangi emisi karbon sebesar 1.096.705 ton CO2 ekuivalen per tahun dengan asumsi bahan bakar yang digunakan yaitu batubara atau 855.356 ton CO2 ekuivalen per tahun jika bahan bakar yang digunakan adalah diesel.
Selain untuk kebutuhan operasional, energi listrik yang dihasilkan PLTA tadi juga didistribusikan sebesar 10,7 megawatt untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Luwu Timur melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN).
*Upaya mereduksi emisi
PT Vale membatalkan Coal Conversion Project (CCP) meski proyek tersebut dapat mereduksi biaya finansial perusahaan sebesar US$ 40 juta setiap tahunnya. Namun dengan membatalkan CCP PT Vale mampu menghindari kenaikan emisi gas rumah kaca rata-rata sebesar 200.000 ton CO2 setiap tahunnya.
Pada tahun 2019, perusahaan mengoperasikan boiler listrik yang energinya berasal dari PLTA untuk operasional pabrik pengolahan. Dengan inovasi ini mampu menghilangkan penggunaan bahan bakar HSFO (high sulfur fuel oil) sebanyak 67.047 barel per tahun. Boiler listrik PT Vale juga menjadi pertama digunakan di industri pengolahan di Asia Tenggara.
Sejak 2015, perusahaan mulai mengimplementasi program penggunaan biodiesel/bahan bakar nabati untuk kendaraan operasional yang trennya kian meningkat setiap tahun; 17,3 juta liter (2019), 11,9 juta liter (2018) dan 11,1 (2016 dan 2017).
*Pertambangan hijau yang terintegrasi
PT Vale mengintegrasikan aktivitas pembukaan lahan tambang dengan reklamasi (pemulihan lahan) dan rehabilitasi (penanaman kembali). Maka itu perusahaan membangun kebun bibit modern (nursery) seluas 2,5 hektar dengan kapasitas produksi sebanyak 700.000 bibit (termasuk tanaman asli setempat dan tanaman endemik) setiap tahun untuk menyuplai tanaman dan mendukung aktivitas rehabilitasi lahan pasca tambang. Nursery telah beroperasi sejak April 2006. Luas lahan pasca tambang yang berhasil direklamasi setiap tahun rata-rata di angka 4.000 hektar.
*Pengolahan limbah berteknologi tinggi
Untuk mengendalikan limbah cair (effluent) dari area tambang dan pabrik pengolahan, PT Vale membangun lebih dari 100 pond (kolam pengendapan) di Blok Sorowako dilengkapi dengan fasilitas pengolahan air limbah (Pakalangkai Water Treatment) dan Lamella Gravity Settler (LGS, beroperasi sejak 2015) untuk menurunkan konsentrasi limbah cair secara signifikan. PT Vale sebagai perusahaan yang pertama kali memanfaatkan teknologi LGS yang biasanya untuk pengolahan air minum di industri pertambangan di Indonesia. Upaya tersebut diikuti dengan pengecekan kualitas air danau secara regular bersama Lembaga independen.
Sedangkan pengendalian emisi debu dan partikulat di pabrik pengolahan nikel, perusahaan mengoperasikan ESP (Electrostatic Precipitator) atau penangkap debu teknologi listrik statis dan Bag House (fasilitas penangkap debu dan partikulat) di tanur pelebur dan tanur pereduksi.
*Program Pengembangan Masyarakat
Implementasi program sosial perusahaan melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM). Perusahaan berko- laborasi dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan masyarakat. PPM dirancang untuk periode 2018-2022 dan sinergi dengan peraturan Pemerintah yang menstimulasi pembangunan desa dan wilayah operasi perusahaan tam- bang khususnya, yakni Kepmen ESDM 1824 Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat dan UU Nomor 6 Tahun 2014
(UU Desa).
Terkait implementasinya, Vale menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan Perjanjian Kerja Sama dengan Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terkait pelaksanaan Program Pengembangan Masyarakat tersebut.
Sebelumnya, sejak 2015 perusaahaan telah membina petani di wilayah pemberdayaan untuk mempraktikan pertanian sehat ramah lingkungan melalui budidaya padi organik. Kemudian pada tahun 2017 perusahaan melakukan pembinaan dan pendampingan bagi usaha mikro, kecil dan menengah di wilayah pemberdayaan. Hingga saat ini ada sekitar 38.000 jiwa di wilayah pemberdayaan perusahaan sebagai penerima manfaat dari pelaksanaan PPM.
Komitmen tersebut terus dijaga hingga lebih dari lima dekade atau 53 tahun untuk masa depan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang berada di base operasional perusahaan di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Dalam bisnis dan operasinya, PT Vale mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) melalui praktik penambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan terhadap lingkungan dan masyarakat.

53 Tahun beroperasi di Indonesia, PT Vale memproduksi nickel matte 75.000 ton pertahun, memasok 5% kebutuhan nikel dunia. Tak hanya itu, PT Vale Indonesia berkomitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan merupakan upaya untuk mewujudkan sasaran menjadi sustainable operator, value contributor dan obedient citizen.
"Kami memegang teguh komitmen menjaga kelestarian bumi, sesuai dengan salah satu nilai kami, yakni menjaga kelestarian bumi. Kami menjalankan kegiatan penambangan dan pengolahan bijih nikel dengan melaksanakan praktik-praktik terbaik didukung penerapan teknologi ramah lingkungan. Perseroan berupaya agar tidak menimbulkan dampak negatif, baik di dalam maupun di luar wilayah operasi," kata CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Tbk, Febriany Eddy.
PT Vale berkomitmen melakukannya dengan memberikan dukungan pada peningkatan kualitas kehidupan dan mendukung pengurangan emisi karbon. “Kami ingin terus berkontribusi. Kami ingin terus menginspirasi. Kami ingin meningkatkan kualitas kehidupan bagi generasi yang akan datang,” katanya.

Dalam laporan keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk 2020, perseroan yang didirikan pada 25 Juli 1968 telah merumuskan Prioritas Strategis dengan lima pilar yakni kesehatan, keselamatan dan risiko, sumber daya manusia, keberlanjutan, pemeliharaan dan pertumbuhan.
“Prioritas Strategis dijalankan mulai tahun 2020 hingga 3-5 tahun ke depan. Tujuannya adalah menancapkan pondasi yang kokoh untuk dicapai di 2030 dan 2050, yang bermuara pada PT Vale yang lebih aman, andal, kompetitif, berkelanjutan, dan dicintai masyarakat,” kata Febriany Eddy.
Program Keberlanjutan
Menyadari betapa pentingnya program berkelanjutan untuk diterapkan, PT Vale Indonesia Tbk menghadirkan sejumlah inovasi demi mewujudkan komitmen tersebut dari multisektor.
Program keberlanjutan tersebut meliputi, produksi nikel berbasis energi bersih, pertambangan hijau yang terintegrasi, pengolahan limbah berteknologi tinggi, Program Pengembangan Masyarakat (PPM), meningkatkan tata kelola perusahaan secara berkelanjutan serta dukungan terhadap penanggulangan COVID-19.
*Produksi nikel berbasis energi bersih
Sejak tahun-tahun awal perusahaan berdiri telah memulai dengan membangun dan mengoperasikan PLTA Larona (1979), PLTA Balambano (1999) dan PLTA Karebbe (2011) dengan total kapasitas terpasang sebesar 365 megawatt untuk menyuplai energi ke pabrik pengolahan.
Berkat PLTA tersebut, PT Vale mampu mengurangi emisi karbon sebesar 1.096.705 ton CO2 ekuivalen per tahun dengan asumsi bahan bakar yang digunakan yaitu batubara atau 855.356 ton CO2 ekuivalen per tahun jika bahan bakar yang digunakan adalah diesel.
Selain untuk kebutuhan operasional, energi listrik yang dihasilkan PLTA tadi juga didistribusikan sebesar 10,7 megawatt untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Luwu Timur melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN).
*Upaya mereduksi emisi
PT Vale membatalkan Coal Conversion Project (CCP) meski proyek tersebut dapat mereduksi biaya finansial perusahaan sebesar US$ 40 juta setiap tahunnya. Namun dengan membatalkan CCP PT Vale mampu menghindari kenaikan emisi gas rumah kaca rata-rata sebesar 200.000 ton CO2 setiap tahunnya.
Pada tahun 2019, perusahaan mengoperasikan boiler listrik yang energinya berasal dari PLTA untuk operasional pabrik pengolahan. Dengan inovasi ini mampu menghilangkan penggunaan bahan bakar HSFO (high sulfur fuel oil) sebanyak 67.047 barel per tahun. Boiler listrik PT Vale juga menjadi pertama digunakan di industri pengolahan di Asia Tenggara.
Sejak 2015, perusahaan mulai mengimplementasi program penggunaan biodiesel/bahan bakar nabati untuk kendaraan operasional yang trennya kian meningkat setiap tahun; 17,3 juta liter (2019), 11,9 juta liter (2018) dan 11,1 (2016 dan 2017).
*Pertambangan hijau yang terintegrasi
PT Vale mengintegrasikan aktivitas pembukaan lahan tambang dengan reklamasi (pemulihan lahan) dan rehabilitasi (penanaman kembali). Maka itu perusahaan membangun kebun bibit modern (nursery) seluas 2,5 hektar dengan kapasitas produksi sebanyak 700.000 bibit (termasuk tanaman asli setempat dan tanaman endemik) setiap tahun untuk menyuplai tanaman dan mendukung aktivitas rehabilitasi lahan pasca tambang. Nursery telah beroperasi sejak April 2006. Luas lahan pasca tambang yang berhasil direklamasi setiap tahun rata-rata di angka 4.000 hektar.
*Pengolahan limbah berteknologi tinggi
Untuk mengendalikan limbah cair (effluent) dari area tambang dan pabrik pengolahan, PT Vale membangun lebih dari 100 pond (kolam pengendapan) di Blok Sorowako dilengkapi dengan fasilitas pengolahan air limbah (Pakalangkai Water Treatment) dan Lamella Gravity Settler (LGS, beroperasi sejak 2015) untuk menurunkan konsentrasi limbah cair secara signifikan. PT Vale sebagai perusahaan yang pertama kali memanfaatkan teknologi LGS yang biasanya untuk pengolahan air minum di industri pertambangan di Indonesia. Upaya tersebut diikuti dengan pengecekan kualitas air danau secara regular bersama Lembaga independen.
Sedangkan pengendalian emisi debu dan partikulat di pabrik pengolahan nikel, perusahaan mengoperasikan ESP (Electrostatic Precipitator) atau penangkap debu teknologi listrik statis dan Bag House (fasilitas penangkap debu dan partikulat) di tanur pelebur dan tanur pereduksi.
*Program Pengembangan Masyarakat
Implementasi program sosial perusahaan melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM). Perusahaan berko- laborasi dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan masyarakat. PPM dirancang untuk periode 2018-2022 dan sinergi dengan peraturan Pemerintah yang menstimulasi pembangunan desa dan wilayah operasi perusahaan tam- bang khususnya, yakni Kepmen ESDM 1824 Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat dan UU Nomor 6 Tahun 2014
(UU Desa).
Terkait implementasinya, Vale menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan Perjanjian Kerja Sama dengan Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terkait pelaksanaan Program Pengembangan Masyarakat tersebut.
Sebelumnya, sejak 2015 perusaahaan telah membina petani di wilayah pemberdayaan untuk mempraktikan pertanian sehat ramah lingkungan melalui budidaya padi organik. Kemudian pada tahun 2017 perusahaan melakukan pembinaan dan pendampingan bagi usaha mikro, kecil dan menengah di wilayah pemberdayaan. Hingga saat ini ada sekitar 38.000 jiwa di wilayah pemberdayaan perusahaan sebagai penerima manfaat dari pelaksanaan PPM.
Lihat Juga :