67,3% Masyarakat Anggap Rokok Sajian Penting dalam Kegiatan Sosial

loading...
67,3% Masyarakat Anggap Rokok Sajian Penting dalam Kegiatan Sosial
Warga membeli rokok di salah satu toko di kawasan Jakarta Timur. Foto/Dok SINDOnews/Eko Purwanto
JAKARTA - Rokok merupakan benda yang tidak asing lagi bagi penduduk Indonesia. Rokok kretek, atau keretek atau kumeretek dan kebiasaan menghisapnya adalah warisan budaya dan masih merupakan bangunan peradaban asli hasil kreasi dan inovasi individu-individu maupun kelompok-kelompok masyarakat di wilayah nusantara yang tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Di Indonesia, rokok kretek tidak hanya berfungsi sebagai barang yang dihisap untuk penenang dan membangun hubungan sosial, tetapi juga sebagai bagian dari bahan sesaji yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat pedesaan, dapat kita temui hampir diseluruh masyarakat pedesaan pulau Jawa.

Demikian juga rokok kretek sebagai bagian dari upacara slametan dan acara-acara adat merupakan budaya masyarakat Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan hasil kajian Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (PPKE FEB UB) yang dipaparkan oleh Guru Besar FEB UB, Candra Fajri Ananda dalam forum group discussion bertajuk “Merajut Kebijakan di Sektor Industri Hasil Tembakau yang Berkeadilan”, belum lama ini.

Baca juga: Kenaikan Harga Rokok Ancam Kelangsungan Industri Hasil Tembakau



Menurut hasil kajiannya, bahwa rokok merupakan sajian penting dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. “Sebanyak 67,3% responden menyatakan bahwa rokok merupakan sajian penting yang harus tersedia dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan,” kata Candra, dikutip Minggu (26/9/2021).

Candra menuturkan, provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten merupakan daerah yang mayoritas menyajikan rokok dalam setiap kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Sebagian besar kegiatan tersebut diantaranya kegiatan gotong royong, kegiatan kepemudaan, hajatan warga, kegiatan keagamaan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya," ujarnya.

Baca juga: Sri Mulyani: Kerugian Akibat Peredaran Rokok Ilegal Tembus Rp13,48 Triliun

Sementara itu, budayawan Mohamad Sobary berpandangan merokok itu sebagai strategi kehidupan. Bangsa kita merokok itu sebagai strategi kehidupan dalam berbagai tekanan. Rokok itu sebagai cara hidup bukan hanya aksesoris. “Dengan memproduksi rokok maka hasilnya akan digunakan untuk cara hidup,” kata Sobary.

Oleh sebab itu, tak heran jika pada akhirnya peningkatan peredaran rokok ilegal di tengah kenaikan harga rokok yang terus menerus terjadi adalah sebuah keniscayaan mengingat rokok telah menjadi sajian penting dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.



Sobary mengungkapkan bahwa keberadaan rokok ilegal adalah sebuah akibat, bukan penyebab. “Rokok ilegal itu bukan penyebab, tapi akibat,” cetusnya.
(ind)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top