Minim Risiko, Prospek Investasi Budidaya Udang di Sulteng Kian Menjanjikan
Rabu, 10 Juni 2020 - 18:08 WIB
loading...
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melakukan penebaran benur di kawasan budidaya udang modern milik PT. Esaputli Prakarsa Utama di Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu, Parigimoutong. Foto/Dok
A
A
A
PARIGI MOUTONG - Perkembangan industri budidaya udang vaname yang semakin menggeliat, menambah optimisme tercapainya peningkatan nilai ekspor hingga 250% dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Atas situasi ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengapresiasi adanya sinergitas pemerintah pusat, daerah serta keterlibatan swasta.
"KKP selalu berupaya untuk mendorong investasi di bidang budidaya vaname ini dan ini saya rasa bukti kita serius melakukan percepatan optimalisasi lahan budidaya," ujar Edhy usai melakukan penebaran benur di kawasan budidaya udang modern milik PT. Esaputli Prakarsa Utama di Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu, Parigimoutong, Rabu (10/6/2020).
Edhy mengatakan, dukungan dari pihak swasta yang mulai melirik bisnis perudangan nasional menandakan adanya perbaikan iklim investasi di bidang ini. Imbasnya pun akan berdampak positif untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Karenanya, dia berharap momentum ini menjadi pemicu bagi masuknya investasi lainnya. "Saya berharap ini juga jadi titik awal sebagai pemicu bagi masuknya investasi sejenis," sambungnya.
Kendati mengapresiasi, Edhy mengingatkan agar pemerintah daerah dan swasta memfasilitasi masyarakat setempat untuk mendapatkan pelatihan budidaya udang. Adapun pemerintah pusat, menyediakan akses pemodalan melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang memiliki bunga 6% dan BLU-LPMKP dengan bunga 3%. "Investasi juga harus ada dampak bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saya minta nanti ada pelatihan pelatihan untuk mereka," urainya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto memastikan investasi pada bisnis budidaya udang akan mulai terbuka, seiring dengan prospek perudangan nasional yang kian menjanjikan. Menurutnya, budidaya udang sudah bukan lagi tergolong investasi high risk business (jenis usaha berisiko tinggi) karena semua risiko telah mampu diperhitungkan.
Terlebih teknologi budidaya sudah dikuasai sepenuhnya, infrastruktur juga sudah membaik, dan peluang yang pasar tinggi, keberpihakan regulasi serta adamya kemudaham akses yang lebih terjamin. "Udang ini andalan ekspor, kita berharap menggeser India dan negara lain agar bisa mendominasi pangsa pasar udang dunia, dengan demikian devisa ekspor akan naik signifikan," tegas Slamet.
Slamet juga membeberkan sejumlah upaya untuk mempercepat pengembangan kawasan budidaya udang berkelanjutan di tahun ini, antara lain : pengembangan model tambak udang berkelanjutan di lima Kabupaten/Kota yakni Aceh Timur, Sukabumi, Sukamara, Buol, dan Lampung Selatan; pengembangan model tambak millenial dengan memberdayakan anak muda; pengembangan model tambak perhutanan sosial dengan melibatkan lintas sektoral; dan mendorong investor untuk mengembangkan usaha budidaya udang dengan pola kemitraan inti plasma.
"KKP selalu berupaya untuk mendorong investasi di bidang budidaya vaname ini dan ini saya rasa bukti kita serius melakukan percepatan optimalisasi lahan budidaya," ujar Edhy usai melakukan penebaran benur di kawasan budidaya udang modern milik PT. Esaputli Prakarsa Utama di Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu, Parigimoutong, Rabu (10/6/2020).
Edhy mengatakan, dukungan dari pihak swasta yang mulai melirik bisnis perudangan nasional menandakan adanya perbaikan iklim investasi di bidang ini. Imbasnya pun akan berdampak positif untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Karenanya, dia berharap momentum ini menjadi pemicu bagi masuknya investasi lainnya. "Saya berharap ini juga jadi titik awal sebagai pemicu bagi masuknya investasi sejenis," sambungnya.
Kendati mengapresiasi, Edhy mengingatkan agar pemerintah daerah dan swasta memfasilitasi masyarakat setempat untuk mendapatkan pelatihan budidaya udang. Adapun pemerintah pusat, menyediakan akses pemodalan melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang memiliki bunga 6% dan BLU-LPMKP dengan bunga 3%. "Investasi juga harus ada dampak bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saya minta nanti ada pelatihan pelatihan untuk mereka," urainya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto memastikan investasi pada bisnis budidaya udang akan mulai terbuka, seiring dengan prospek perudangan nasional yang kian menjanjikan. Menurutnya, budidaya udang sudah bukan lagi tergolong investasi high risk business (jenis usaha berisiko tinggi) karena semua risiko telah mampu diperhitungkan.
Terlebih teknologi budidaya sudah dikuasai sepenuhnya, infrastruktur juga sudah membaik, dan peluang yang pasar tinggi, keberpihakan regulasi serta adamya kemudaham akses yang lebih terjamin. "Udang ini andalan ekspor, kita berharap menggeser India dan negara lain agar bisa mendominasi pangsa pasar udang dunia, dengan demikian devisa ekspor akan naik signifikan," tegas Slamet.
Slamet juga membeberkan sejumlah upaya untuk mempercepat pengembangan kawasan budidaya udang berkelanjutan di tahun ini, antara lain : pengembangan model tambak udang berkelanjutan di lima Kabupaten/Kota yakni Aceh Timur, Sukabumi, Sukamara, Buol, dan Lampung Selatan; pengembangan model tambak millenial dengan memberdayakan anak muda; pengembangan model tambak perhutanan sosial dengan melibatkan lintas sektoral; dan mendorong investor untuk mengembangkan usaha budidaya udang dengan pola kemitraan inti plasma.
Lihat Juga :