Bu Sri Mulyani, Ada Ide Cemerlang dari Sekjen PBB buat Tambah Penerimaan

Kamis, 04 Agustus 2022 - 16:56 WIB
loading...
Bu Sri Mulyani, Ada Ide Cemerlang dari Sekjen PBB buat Tambah Penerimaan
Nikmati keuntungan berlebih, Sekjen PBB desak ada pajak tambahan buat perusahaan migas. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak pemerintah negara-negara di dunia untuk memungut pajak tambahan kepada perusahaan minyak dan gas (migas) . Pernyataan itu disampaikan lantaran besarnya keuntungan yang didapat perusahaan migas di tengah krisis energi dan ekonomi yang membebani masyarakat miskin.

Baca juga: Sekjen PBB Soal Perubahan Iklim: Tindakan Kolektif atau Bunuh Diri Kolektif

"Tidak bermoral bagi perusahaan minyak dan gas untuk membuat rekor keuntungan dari krisis energi saat ini ketika di belakangnya masih ada masyarakat miskin, ditambah biaya besar bagi iklim," kata Guterres kepada wartawan, melansir US News, Kamis (4/8/2022).

"Saya mendesak semua pemerintah untuk mengenakan pajak atas keuntungan yang berlebihan ini, dan menggunakan dana tersebut untuk mendukung orang-orang yang paling rentan melalui masa-masa sulit," tambahnya.

Selain itu, Guterres juga mendesak masyarakat mengirim pesan kepada industri migas dan pemodal akan kerugian yang disebabkan oleh keserakahan mereka terhadap masyarakat miskin dan rentan, serta menimbulkan risiko bagi iklim bumi.

"Keserakahan yang mengerikan ini berdampak pada orang-orang yang paling miskin dan paling rentan, sambil menghancurkan satu-satunya rumah kita bersama," ujar dia.

Guterres mencatat, di kuartal II 2022, dua perusahaan minyak terbesar Amerika Serikat, yakni Exxon Mobil Corp XOM.N dan Chevron Corp CVX.N yang berbasis di Inggris serta perusahaan TotalEnergies Prancis berhasil meraup keuntungan senilai USD51 miliar atau sekitar Rp765 triliun (kurs Rp15.000).

Kritik pun berdatangan dari sejumlah politisi dan pendukung konsumen terhadap perusahaan migas karena memanfaatkan kekurangan pasokan global untuk melipatgandakan keuntungan dan menipu konsumen.

Semua negara, dan terutama negara maju, harus mengelola permintaan energi. Menghemat energi, mempromosikan transportasi umum dan solusi berbasis alam adalah komponen penting.

Baca juga: Hadapi Persaingan dengan TikTok, Instagram Perkuat Tenaga Ahli di London

"Ada juga kebutuhan untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan, yang dalam banyak kasus lebih murah daripada bahan bakar fosil," katanya.

(uka)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3167 seconds (10.101#12.26)