Tanpa Gas Rusia, Eropa Bisa Kehilangan Kontribusi Rp1.209 Triliun dari Industri Baja
Minggu, 25 September 2022 - 05:04 WIB
loading...
Biaya energi yang melonjak imbas perang Rusia Ukraina telah memaksa produsen baja memangkas produksi di seluruh daratan Eropa. Skenario terburuk dari dampak krisis gas Eropa yakni memicu penutupan pabrik secara massal. Foto/Dok
A
A
A
GENK - Biaya energi yang melonjak imbas perang Rusia Ukraina telah memaksa produsen baja memangkas produksi di seluruh daratan Eropa. Skenario terburuk dari dampak krisis gas Eropa yakni memicu penutupan pabrik secara massal untuk sektor ini yang mempekerjakan lebih dari 300.000 orang dan menyumbang puluhan miliar euro untuk ekonomi di kawasan.
Baca Juga: Kehilangan Gas Rusia Mengancam Menjungkirbalikkan Lanskap Industri Eropa
Bahkan dengan empat turbin angin dan lebih dari 50.000 panel surya yang berlokasi di Belgia timur, pembuat baja tahan karat Aperam terpaksa menghentikan produksi karena lonjakan harga energi. Biaya tagihan energi yang semakin mahal membuat perusahaan sulit menjaga produksi.
Pihak perusahaan mengibaratkan biaya energi dalam sebulan saat ini setara dengan yang mereka bayarkan untuk waktu satu tahun pada periode sebelum perang. Dampak dari lonjakan harga energi, membuat Aperam menghentikan fasilitas yang biasanya akan melelehkan skrap baja tahan karat dan mengubahnya menjadi lempengan raksasa dan mempekerjakan sekitar 300 pekerja.
"Kami memiliki rencana sementara untuk mengatasi beberapa periode tertentu, tetapi ini tidak dapat bertahan selama bertahun-tahun," kata Chief Aperam Eropa, Bernard Hallemans kepada Reuters.
Baca Juga: Kehilangan Gas Rusia Mengancam Menjungkirbalikkan Lanskap Industri Eropa
Bahkan dengan empat turbin angin dan lebih dari 50.000 panel surya yang berlokasi di Belgia timur, pembuat baja tahan karat Aperam terpaksa menghentikan produksi karena lonjakan harga energi. Biaya tagihan energi yang semakin mahal membuat perusahaan sulit menjaga produksi.
Pihak perusahaan mengibaratkan biaya energi dalam sebulan saat ini setara dengan yang mereka bayarkan untuk waktu satu tahun pada periode sebelum perang. Dampak dari lonjakan harga energi, membuat Aperam menghentikan fasilitas yang biasanya akan melelehkan skrap baja tahan karat dan mengubahnya menjadi lempengan raksasa dan mempekerjakan sekitar 300 pekerja.
"Kami memiliki rencana sementara untuk mengatasi beberapa periode tertentu, tetapi ini tidak dapat bertahan selama bertahun-tahun," kata Chief Aperam Eropa, Bernard Hallemans kepada Reuters.
Lihat Juga :