Menanti Daya Tarik Investasi

Selasa, 07 Juli 2020 - 06:03 WIB
loading...
Menanti Daya Tarik Investasi
Foto/Koran SINDO
A A A
JAKARTA - Investasi masih jadi andalan pemerintah untuk mengdongkrak pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi. Sayangnya, upaya mernarik investasi lebih banyak lagi terkendala sejumlah persoalan klasik.

Birokrasi dan lambannya eksekusi di lapangan menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Meski Presiden Joko Widodo (Jokowi) kerap menyentil para pejabat di semua level, namun perubahannya belum terlalu signifikan.

Memang, pekan lalu ada sekitar tujuh perusahaan yang disebutkan akan merelokasi pabriknya ke Indonesia. Selain itu, ada juga 17 perusahaan lain dari luar negeri yang berencana pindah ke Tanah Air. Namun, jumlah jumlah masih terbilang minim jika dibanding dengan potensinya yang mencapai 119 perusahaan di China yang hendak memindahkan fasilitas produksinya akibat dampak perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Perihal ini, saat berkunjung ke Jawa Tengah pekan lalu, Presiden wanti-wanti agar Indonesia jangan sampai tidak mendapatkan perusahaan-perusahaan untuk masuk ke Indonesia. “Jangan kalah dengan negara-negara lain,” tegas Presiden saat itu. (Baca: Cepat Pulih, Pertumbuhan Penumpang Udara isa Membaik Akhir Tahun)

Apa yang diinginkan Presiden terkait relokasi perusahaan-perusahaan dari China ke Indonesia cukup masuk akal. Selain untuk mendatangkan investasi, keberadaan investor asing di sektor manufaktur bisa membuka keran pasar tenaga kerja yang selama ini terdampak pandemi Covid-19.

Presiden juga tampaknya tidak ingin mengulang kejadian seperti tahun lalu di mana ada relokasi 33 perusahaan dari China, tetapi Indonesia tidak dilirik.

Namun, upaya mendatangkan pemodal asing itu tampaknya masih harus diperjuangkan lebih keras lagi. Pasalnya, kalangan pengusaha nasional menilai, masih ada sejumlah persoalan yang harus segera diselesaikan agar para pemodal mau membenamkan dananya di dalam negeri.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, setidaknya ada empat faktor mengapa daya tarik Indonesia masih kalah dibanding negara-negara lain di kawasan ASEAN.

Pertama, dilihat dari sisi kemudahan berbisnis di Indonesia. Survei Bank Dunia dari tahun 2018-2019 menyebutkan peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia stagnan di level 73. Posisi itu jelas kalah jauh dibanding Singapura di posisi 2, Malaysia (12), Thailand (21), dan Vietnam (70).

Kedua, faktor kemudahan izin usaha yang dinilai paling sulit se-ASEAN. Apindo menilainya berdasarkan survei dari SMRC pada tahun ini di mana menunjukkan 46% masyarakat masih sulit mengurus perizinan berusaha.

Adapun yang ketiga adalah faktor produktivitas dan upah tenaga kerja di Indonesia yang dinilai kurang kompetitif. Terakhir adalah terkait respons dan kecepatan respons dari upaya penanggulangan pandemi Covid-19. (Baca juga: Relokasi 7 Perusahaan dari China Bisa Berjalan jika Hambatan Daya Saing Bisa Dihapus)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Buka MNC Forum ke-82,...
Buka MNC Forum ke-82, HT Ungkap Peran Strategis Pasar Modal bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Investasi Asing Lebih...
Investasi Asing Lebih Pilih Malaysia, Singapura, dan Vietnam daripada Indonesia
Porsi Investasi Asing...
Porsi Investasi Asing Cuma 1,8%, Ekonom: Perizinan Masih Berlarut-larut
Qavah Group Fasilitasi...
Qavah Group Fasilitasi Ekspansi Investor China ke Pasar Indonesia
Mengulik Kerentanan...
Mengulik Kerentanan Ekonomi Nasional di Balik Angka Pertumbuhan 5,61 Persen
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Diragukan, Purbaya: Angka Jelek Ribut, Angka Tinggi Ribut
Pertumbuhan yang Berdampak
Pertumbuhan yang Berdampak
Jebakan Pertumbuhan...
Jebakan Pertumbuhan 5 Persen
Tekanan Fiskal dan Belanja...
Tekanan Fiskal dan Belanja Berkualitas
Rekomendasi
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Preview Timnas Indonesia...
Preview Timnas Indonesia vs Oman: Rizky Ridho Jadi Kapten, Calvin Verdonk Siap Tampil
Hadiri Konsolidasi Nasional...
Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Ketum Garuda Komitmen Wujudkan Generasi Emas 2045
Berita Terkini
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
Infografis
Sedang Menanti Jet Tempur...
Sedang Menanti Jet Tempur Rafale, Indonesia Digoda F-15EX
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved