Turki Jadi Batu Sandungan Sanksi Barat yang Membatasi Harga Minyak Rusia

Sabtu, 10 Desember 2022 - 20:46 WIB
loading...
Turki Jadi Batu Sandungan...
Turki muncul sebagai batu sandungan terhadap rencana Barat untuk mengurangi pendapatan Rusia dari jualan minyak dengan pembatasan harga, saat 28 kapal tanker tersandera. Foto/Dok
A A A
ISTANBUL - Turki muncul sebagai batu sandungan terhadap rencana Barat untuk mengurangi pendapatan Rusia dari jualan minyak dengan pembatasan harga minyak. Terpantau jumlah kapal tanker yang menunggu untuk keluar dari Laut Hitam melalui selat Turki terus meningkat.

Ankara -Ibu kota Turki- telah menolak untuk membatalkan aturan baru inspeksi asuransi yang diterapkan pada awal bulan, meski ada tekanan dari pejabat Barat. "Sebanyak 28 kapal tanker minyak berada dalam antrian yang berusaha meninggalkan selat Bosporus dan Dardanella," kata agen pelayaran Tribeca pada akhir pekan kemarin.

Baca Juga: Eropa Waspadai Turki Dijadikan Rusia Tempat Menyembunyikan Gas

Seperti diketahui negara-negara kaya yang tergabung dalam G7, Uni Eropa (UE) dan Australia mencapai kata sepakat untuk melarang penyedia layanan pengiriman, seperti perusahaan asuransi untuk membantu mengekspor minyak Rusia. Terkecuali bila minyak mentah itu dijual dengan harga rendah sesuai batasan.

Aturan tersebut bertujuan merampas pendapatan Moskow, sebagai respons pihak Barat terhadap invasi Rusia di Ukraina. Sementara itu, Otoritas maritim Turki mengatakan, akan terus menjauhkan kapal tanker minyak dari perairannya yang tidak memiliki surat asuransi yang sesuai.

Baca Juga: Rusia Pertimbangkan Pangkas Produksi Minyak untuk Melawan Sanksi Barat yang Batasi Harga

Perusahaan asuransi Barat mengatakan, mereka tidak dapat memberikan dokumen yang disyaratkan oleh Turki karena dapat membuat mereka terkena sanksi, jika diketahui bahwa kargo minyak yang mereka lindungi dijual dengan harga yang melebihi batas.

Otoritas Turki mengatakan, bahwa jika terjadi kecelakaan yang melibatkan kapal pelanggar sanksi, ada kemungkinan kerusakan tidak akan ditanggung oleh dana tumpahan minyak internasional.

"(Ini) tidak mungkin bagi kami untuk mengambil risiko bahwa perusahaan asuransi tidak akan memenuhi tanggung jawab ganti ruginya," katanya, seraya menambahkan bahwa Turki sedang melanjutkan pembicaraan dengan negara lain dan perusahaan asuransi.

Ia menambahkan, sebagian besar kapal yang menunggu di dekat selat itu adalah kapal-kapal Uni Eropa, dengan sebagian besar minyak ditujukan untuk pelabuhan Uni Eropa- faktor yang membuat frustrasi sekutu Barat Ankara.

Otoritas Turki mengatakan, Turki memiliki rencana untuk memindahkan delapan kapal tanker yang tidak memiliki asuransi P&I yang menunggu di laut Marmara untuk menyeberangi Dardanella dari perairannya. Kapal tanker ini akan dikawal untuk menyeberangi Dardanella di bawah langkah-langkah tambahan setelah selat itu ditutup untuk lalu lintas maritim, kata pernyataan itu.

Sebuah sumber pengiriman mengatakan, empat kapal tanker yang menunggu untuk menyeberangi Dardanella dijadwalkan pergi pada hari Sabtu dengan pengawalan kapal.

Satu kapal tanker berbendera Turki mendapat surat asuransi P&I dari perusahaan asuransi anggota grup P&I internasional setelah Turki pertama kali meminta surat asuransi dari kapal tanker minyak, dan kapal tanker itu melintasi Bosphorus pada hari Jumat, kata pernyataan itu.

Backlog kapal menciptakan kegelisahan yang berkembang di pasar minyak dan kapal tanker. Jutaan barel minyak per hari bergerak ke selatan dari pelabuhan Rusia melalui selat Bosphorus dan Dardanella Turki ke Mediterania.

MINYAK KAZAKH

Sebagian besar kapal tanker yang menunggu di Bosphorus membawa minyak Kazakh dan Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan, pada hari Kamis bahwa pemerintah AS tidak melihat alasan bahwa pengiriman semacam itu harus tunduk pada prosedur baru Turki.

Washington tidak punya alasan untuk percaya Rusia terlibat dalam keputusan Turki untuk memblokir transit kapal, tambahnya.

Komisi Eropa mengatakan, bahwa penundaan itu tidak terkait dengan batas harga dan Turki dapat terus memverifikasi polis asuransi dengan "cara yang persis sama seperti sebelumnya".

"Oleh karena itu kami berhubungan dengan pihak berwenang Turki untuk mencari klarifikasi dan sedang bekerja untuk membuka blokir," kata seorang juru bicara kepada Reuters.

Turki telah menyeimbangkan hubungan baiknya dengan Rusia dan Ukraina sejak Moskow menginvasi tetangganya pada Februari 2022, lalu. Ankara memainkan peran kunci dalam kesepakatan yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dicapai pada bulan Juli untuk membebaskan ekspor biji-bijian dari pelabuhan Laut Hitam Ukraina.

Namun, hubungan antara sekutu NATO, Ankara dan Washington terkadang jalannya berbatu, karena Turki bulan lalu memperbarui seruan agar Amerika Serikat berhenti mendukung pasukan Kurdi Suriah.

Di sisi lain pemerintahan Biden menjatuhkan sanksi pada seorang pengusaha Turki terkemuka Sitki Ayan dan jaringan perusahaannya, menuduhnya bertindak sebagai fasilitator untuk penjualan minyak dan pencucian uang atas nama Pengawal Revolusi Iran.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
AS-Iran Berdamai, Harga...
AS-Iran Berdamai, Harga Minyak Terjun Bebas ke Bawah USD80 per Barel
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Rekomendasi
Aliansi Intelijen Keluarkan...
Aliansi Intelijen Keluarkan Peringatan Mendesak tentang Risiko yang Ditimbulkan AI
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
18 Gol, 6 Piala Dunia:...
18 Gol, 6 Piala Dunia: Messi Bikin Klose Angkat Topi
Berita Terkini
Dasco: InsyaAllah Pemadaman...
Dasco: InsyaAllah Pemadaman Listrik Tak Terjadi Lagi Pekan Ini
Wamenhub Sebut Potensi...
Wamenhub Sebut Potensi Penerimaan Negara Lewat PT DSI Bisa Tembus Rp2.671 Triliun
Pegadaian Gelar Khitanan...
Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026, Langkah Riil Peduli Sesama Berbasis ESG
IHSG Siang Anjlok 1,29%...
IHSG Siang Anjlok 1,29% ke 6.037, Sektor Keuangan dan Energi Jadi Pemberat
Komut Pertamina Mochamad...
Komut Pertamina Mochamad Iriawan: Investasi Terbaik Bangsa pada Manusia
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved