Redam Lonjakan Impor Tekstil, Pemerintah Kaji Pengenaan Bea Masuk

Senin, 14 Oktober 2019 - 21:38 WIB
Redam Lonjakan Impor...
Redam Lonjakan Impor Tekstil, Pemerintah Kaji Pengenaan Bea Masuk
A A A
JAKARTA - Pemerintah tengah mempertimbangkan untuk mengenakan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS) dalam rangka meredam lonjakan impor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suahasil Nazara mengatakan, BMTPS ini akan dikenakan atas 121 pos tarif produk TPT baik benang, kain, dan tirai maupun produk jadi TPT lainnya yang akan disusulkan berikutnya.

"Saat ini sedang dilakukan pembahasan bersama dengan industri hulu-hilir TPT. Kami akan rapat lagi dengan tim tarif pada tanggal 17 mendatang untuk melindungi impor," ujar Suahasil Nazara di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Lebih lanjut terang dia, selain bertujuan untuk perlindungan terhadap industri hulu, pemerintah juga tetap mempertimbangkan kepentingan industri hilir maupun harga di tingkat konsumen. Hal ini karena pengenaan Bea Masuk Tindakan merupakan bea masuk tambahan dari bea masuk umum (MFN), sehingga kebijakan ini akan meningkatkan biaya bagi industri hilir (garmen).

"Secara kebijakan dari perlindungan dalam negeri maka kita harus buat ini sinkron dari industri hulu, tengah, dan hilir. Intinya, industri hulu tarif bea masuknya harus lebih rendah dari hilir," jelasnya.

Direktur Jenderal Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi menambahkan, pihaknya terus meningkatkan upaya pengawasan dan penindakan terkait impor TPT di Pusat Logistik Berikat (PLB). "Kami memastikan agar tidak ada penyalahgunaan impor TPT untuk produsen yang bahan bakunya dijual di pasar," ungkap Pambudi.

Selain itu, berbagai penyempurnaan kebijakan terkait PLB juga akan dilakukan melalui revisi Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Pusat Logistik Berikat, dengan substansi perubahan sebagai berikut.

Dilakukan pemeriksaan fisik dan dokumen atas importasi melalui PLB berdasarkan Manajemen Risiko; Penerapan Risk Engine Pemeriksaan Fisik; Persyaratan Profil Risiko tertentu; Kewajiban cek eksistensi; Pemberian akses IT Inventory dan CCTV kepada DJP; dan Penyampaian hasil audit kepabeanan kepada DJP. "Untuk lebih mengoptimalkan pengawasan akan dibentuk Satgas yang melibatkan seluruh pihak yang terkait," tuturnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Headwind Ekonomi Global...
Headwind Ekonomi Global 2024 Masih Akan Besar, Jaga Fiskal Tetap Sehat Jadi PR
Lima Strategi BKF Pulihkan...
Lima Strategi BKF Pulihkan Ekonomi Indonesia
Pemerintah Percaya Indonesia...
Pemerintah Percaya Indonesia Masih Punya Peluang Hindari Resesi
Belanja Perpajakan RI...
Belanja Perpajakan RI Tembus Rp323,5 Triliun di 2022, Berikut Rinciannya
Catat, Diskon Angsuran...
Catat, Diskon Angsuran Pajak Penghasilan Bakal Dinaikkan
Tahun Ini, Penerimaan...
Tahun Ini, Penerimaan Pajak Diproyeksi Minus 9,2%
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
8 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
8 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
8 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
9 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
10 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
10 jam yang lalu
Infografis
Angkatan Darat Amerika...
Angkatan Darat Amerika Serikat Incar 'Pasukan Tua' Masuk Militer
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved