Inflasi Rendah, Konsumen Masih Menunda Belanja

loading...
Inflasi Rendah, Konsumen Masih Menunda Belanja
Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Berdasar catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan Juli 2020 terjadi deflasi sebesar -0,10% secara bulanan (month-to-month/mtm), dimana ini menjadi deflasi pertama sejak akhir 2019 lalu.

Penyebab utama deflasi di bulan kemarin ialah adanya deflasi pada komponen harga bergejolak dimana harga pangan seperti bawang merah, bawang putih, dan daging ayam masih mengalami penurunan sebesar masing-masing -27,97%, -17,85%, dan -7,29%. (Baca: Bukan New Normal, Deflasi Juli 2020 Memang Tak Normal)

Hal tersebut disebabkan oleh masih rendahnya daya beli masyarakat menengah serta menengah ke bawah sehingga tingkat permintaan komponen ini juga berkurang.

"Penurunan permintaan ini kemudian juga diikuti oleh masa panen bawang pada sekitar bulan Juni-Juli di beberapa daerah, sehingga mendorong deflasi harga pangan," kata pengamat ekonomi Josua Pardede saat dihubungi di Jakarta, Senin (3/8/2020).

Sementara itu, pendorong inflasi sepanjang bulan Juli yang lalu adalah inflasi inti yang didorong oleh kenaikan tarif pendidikan serta kenaikan harga emas pada bulan Juli sebesar 10,34%, akibat kenaikan harga komoditas emas global, disertai dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. (Baca juga: Lelang The Tale of Two Oranges Berhasil Kumpulkan Rp312,5 Juta untuk Pendidikan)



Secara keseluruhan, kata Josua, dengan tekanan inflasi yang rendah tersebut mengindikasikan tingkat konsumsi masyarakat cenderung masih dalam tren menurun dari awal tahun hingga awal kuartal III tahun 2020 ini.

Bagi konsumen masyarakat berpenghasilan menengah dan menengah ke bawah terkena dampak yang signifikan dari kebijakan PSBB di berbagai daerah yakni penurunan pendapatan karena sebagian masyarakat berpenghasilan menengah bekerja di sektor non-formal tidak dapat mencari nafkah.

"Ini krena peraturan PSBB dan sebagian yang bekerja di sektor formal pun mengalami PHK atau dirumahkan oleh perusahaan sehingga pada akhirnya mendorong penurunan pengeluaran," jelas Josua.

Sementara itu, perilaku konsumsi dari konsumen masyarakat berpenghasilan menengah ke atas juga menahan konsumsi dan bahkan cenderung menabung mempertimbangkan kondisi kasus Covid-19 yang masih dalam tren meningkat dan vaksin Covid-19 yang masih dalam tahap pengujian.

"Masyarakat berpenghasilan menengah ke atas pun terlihat menahan belanja durable goods seperti otomotif, pakaian dan perlengkapan rumah tangga, mengantisipasi berapa lama kondisi Covid ini dapat tertangani dengan tuntas," katanya. (Baca juga: Hindarilah Telanjang, Ada Malaikat yang Selalu Bersama Kita)



Mengingat tingkat inflasi masih rendah per Juli 2020, artinya meskipun beberapa pemerintah daerah sudah mulai melonggarkan PSBB, perilaku konsumen masih tetap menunda belanja.

Selain itu, tingkat penyerapan anggaran penanganan Covid dan pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang masih rendah juga mengindikasikan bahwa pemerintah perlu mempercepat realisasi penyaluran jaring pengaman sosial yang berupa bantuan tunai dan bansos lainnya supaya daya beli masyarakat dapat meningkat sehingga dapat mendukung pemulihan ekonomi nasional.
(ind)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top