Blue Carbon Didorong Selaraskan Ekonomi dan Pengendalian Iklim
Kamis, 14 Desember 2023 - 21:10 WIB
loading...
Diskusi panel bertajuk Sustaining Our Seas: Partnerships for a Thriving Blue Carbon Economy yang digelar di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP28 UNFCCC, Dubai, Uni Emirat Arab. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pemanfaatan potensi blue carbon seperti mangrove dan padang lamun menjadi kesempatan untuk menyelaraskan pemanfaatan ekonomi, konservasi keanekaragaman hayati, dan menjadi aksi untuk pengendalian perubahan iklim.
"Pemanfaatan Mangrove dan padang lamun sebagai blue carbon ekosistem bukan hanya untuk ekonomi, tetapi juga untuk kehidupan," kata Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Hendra Yusran Siry dalam pernyataannya, Kamis (14/12/2023).
Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi panel bertajuk 'Sustaining Our Seas: Partnerships for a Thriving Blue Carbon Economy' yang digelar di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP28 UNFCCC, Dubai, Uni Emirat Arab.
Hadir dalam acara tersebut Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil KKP, Muhammad Yusuf, Lead Blue Carbon Wolrd Economic Forum Emily Kelly, Lead Blue Carbon GRID-Arendal Stevent Lutz, dan Global Technical Advisor UNDP Kimberly Todd.
Baca Juga: Indonesia Luncurkan Peta Jalan Ekonomi Biru hingga 2045
Menurut Hendra, ekosistem mangrove dan padang lamun merupakan penyerapan dan penyimpan karbon yang sangat kuat. Bahkan mampu menyerap karbon 10 kali lebih besar jika dibandingkan hutan di daratan. Mangrove dan padang lamun juga esensial untuk keanekaragaman hayati karena menjadi areal pengembangan berbagai biota laut, termasuk yang bernilai penting secara ekonomi.
Hendra menyatakan sebagai negara yang memiliki ekosistem mangrove yang sangat luas, Indonesia serius mengembangkan blue carbon economy. "Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki 23% dari luas karbon global, dan berada di ranking kelima untuk luas padang lamun. Pendekatan perspektif dilakukan sebagai bagian penting pemanfaatan blue carbon economy," katanya.
"Pemanfaatan Mangrove dan padang lamun sebagai blue carbon ekosistem bukan hanya untuk ekonomi, tetapi juga untuk kehidupan," kata Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Hendra Yusran Siry dalam pernyataannya, Kamis (14/12/2023).
Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi panel bertajuk 'Sustaining Our Seas: Partnerships for a Thriving Blue Carbon Economy' yang digelar di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP28 UNFCCC, Dubai, Uni Emirat Arab.
Hadir dalam acara tersebut Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil KKP, Muhammad Yusuf, Lead Blue Carbon Wolrd Economic Forum Emily Kelly, Lead Blue Carbon GRID-Arendal Stevent Lutz, dan Global Technical Advisor UNDP Kimberly Todd.
Baca Juga: Indonesia Luncurkan Peta Jalan Ekonomi Biru hingga 2045
Menurut Hendra, ekosistem mangrove dan padang lamun merupakan penyerapan dan penyimpan karbon yang sangat kuat. Bahkan mampu menyerap karbon 10 kali lebih besar jika dibandingkan hutan di daratan. Mangrove dan padang lamun juga esensial untuk keanekaragaman hayati karena menjadi areal pengembangan berbagai biota laut, termasuk yang bernilai penting secara ekonomi.
Hendra menyatakan sebagai negara yang memiliki ekosistem mangrove yang sangat luas, Indonesia serius mengembangkan blue carbon economy. "Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki 23% dari luas karbon global, dan berada di ranking kelima untuk luas padang lamun. Pendekatan perspektif dilakukan sebagai bagian penting pemanfaatan blue carbon economy," katanya.
Lihat Juga :