Kebutuhan Bahan Baku Meningkat, Ekspor Oleokimia Diproyeksi Tembus 3,7 Juta Ton

loading...
Kebutuhan Bahan Baku Meningkat, Ekspor Oleokimia Diproyeksi Tembus 3,7 Juta Ton
Peningkatan permintaan terhadap produk oleokimia di masa pandemi Covid-19 tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara. Salah satu protokol kesehatan yang diwajibkan di tengah pandemi ini berimplikasi. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Asosiasi Produsen Oleochemicals Indonesia (Apolin) memperkirakan ekspor oleokimia pada Januari hingga Desember 2020 akan mencapai 3,7 juta ton dengan nilai ekspor sekitar USD2,6 miliar. Ketua Umum Apolin Rapolo Hutabarat mengatakan, volume ekspor oleokimia selama tiga tahun terturut-turut mengalami kenaikan.

(Baca Juga: Rentetan Kejadian Ini Bikin Produksi Sawit Menyusut di Semester I Tahun 2020)

Pada tahun 2018, volume ekspor oleokimia sebesar 2,8 juta ton dengan nilai ekspor sebesar USD2,4 miliar. Kemudian pada tahun 2019, volume ekspor oleokimian mencapai 3,2 juta ton dengan nilai ekspor sebesar USD2 miliar. Penurunan nilai ekspor terjadi karena turunnya harga komoditas secara global.

"Bersyukur di tahun 2020 ini pada Januari hingga Juni, volume ekspor oleokimia sudah mencapai 1,8 juta ton dengan nilai sebesar USD1,3 miliar. Sehingga kami perkirakan ekspor oleokimia sepanjang tahun 2020 akan mencapai 3,7 juta ton dengan nilai ekspor USD2,6 miliar," ujarnya pada paparan kinerja industri sawit 2020 secara virtual, Rabu (12/8/2020).



Rapolo melanjutkan, peningkatan permintaan terhadap produk oleokimia di masa pandemi Covid-19 tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara. Salah satu protokol kesehatan yang diwajibkan di tengah pandemi ini berimplikasi pada peningkatan kebutuhan berbagai produk surfaktan seperti sabun, hand sanitizer, dan deterjen.

"Memang betul hampir seluruh dunia sekarang mengantongi sanitizer di setiap kegiatan atau aktivitasnya. Jadi wajar baik ekspor maupun konsumsi produk di dalam negeri ini mengalami peningkatan," tuturnya.

(Baca Juga: Ekspor Minyak Sawit Terkontraksi 11%, Kecuali ke Tiga Negara Ini)



Menurut dia, pasar ekspor produk oleokimia tidak terganggu meskipun sejumlah negara menerapkan kebijakan lockdown. Fasilitas pelabuhan utama dan jalur distribusi tetap beroperasi karena produk oleokimia dibutuhkan untuk memproduksi produk biosurfaktan.

"Ini sumbangsih dari industri oleokimia atas dukungan pemerintah terutama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang memberi izin nasional sehingga aktivitas dari proses produksi sampai logistik ke pelabuhan tidak ada kendala dan para buyer juga tidak ada yang membatalkan," tandasnya.
(akr)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top