Penjualan BBM Mulai Ngebul, Permintaan Bahan Bakar Naik 17% Sejak Juli

loading...
Penjualan BBM Mulai Ngebul, Permintaan Bahan Bakar Naik 17% Sejak Juli
Selepas PSBB atau pada Juli 2020, demand BBM Pertamina kembali merangsek naik menjadi 121,98 ribu KL. Seiring mulai dibukanya sejumlah sektor ekonomi. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Gara-gara pandemi virus corona (Covid-19) yang diikuti kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak akhir Maret lalu, permintaan bahan bakar minyak (BBM) Pertamina turun 25% dibandingkan dengan kondisi normal. Namun demikian, sejak Juli 2020 ketika masa adaptasi kebiasaan baru dimulai, permintaan BBM kembali naik sekitar 17% dibanding masa PSBB.

“Sampai akhir tahun nanti, prognosa kami permintaan BBM akan naik sekitar 4%. Memang belum normal seperti sebelum Covid karena secara volume diperkirakan turun 13,9% dibanding tahun sebelumnya,” kata Direktur Marketing PT Pertamina Patra Niaga sebagai Commercial and Trading Business Group Pertamina, Jumali saat video conference di Jakarta, kemarin.

(Baca Juga: Era New Normal, Konsumsi BBM Pertamina Merangkak Naik)

Berdasarkan catatan Pertamina, total penjualan BBM berdasarkan prognosa 2020 diperkirakan mencapai 44,16 juta kiloliter (KL). Jumlah tersebut lebih rendah dibanding realisasi penjualan BBM tahun 2019 yang mencapai 51,3 juta KL.



Sedangkan jika dilihat rata-rata konsumsi harian, pada masa PSBB periode Maret-Juni 2020 konsumsi BBM hanya 104,89 ribu KL atau turun 25% dibanding 2019 yang mencapai 140,55 ribu KL. Selepas PSBB atau pada Juli 2020, demand BBM Pertamina kembali merangsek naik menjadi 121,98 ribu KL. Seiring mulai dibukanya sejumlah sektor ekonomi, konsumsi rerata harian BBM pada akhir tahun diperkirakan mencapai 122,89 ribu KL.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 sejak Maret lalu justru membuat permintaan elpiji naik tipis 2% dibandingkan kondisi normal. Kenaikan tersebut terutama disebabkan masyarakat banyak melakukan aktivitas bekerja di rumah (WFH).

(Baca Juga: Penyaluran BBM Sentuh Wilayah Terluar RI, Volume Penjualan Naik)



Kendati demikian, karena daya beli konsumen diperkirakan menurun di kisaran 13% , penjualan elpiji diperkirakan hanya akan tumbuh 1,3% hingga akhir tahun ini. “Masa pandemi kan banyak rumah makan maupun restoran yang tutup,” ujar Jumali.

Menurut Jumali, sepanjang tahun ini penjualan elpiji diperkirakan mencapai 7,84 juta MT, naik dibanding realisasi penjualan 2019 yang mencapai 7,74 juta MT.
(akr)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top