Covid-19 Pengaruhi Target Pembangunan, Jokowi Ajak Tidak Pesimistis

Rabu, 15 April 2020 - 06:28 WIB
loading...
Covid-19 Pengaruhi Target...
Presiden Joko Widodo mengatakan kondisi yang terjadi saat ini memengaruhi target pembangunan dan pertumbuhan ekonomi 2020 serta meminta jajaranya tidak pesimistis. Foto/Antara.
A A A
JAKARTA - Pandemi korona (Covid-19) tidak hanya mengancam kesehatan publik, tapi juga menggoyahkan sendiri perekonian negara-negara termasuk Indonesia. Kemarin Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan kondisi yang terjadi itu memengaruhi target pembangunan dan pertumbuhan ekonomi 2020.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengakui kuartal II dan III menjadi kondisi yang terberat bagi pertumbuhan ekonomi. Dia bahkan menyebut pertumbuhan ekonomi di kuartal tersebut mendekati titik nol. Bahkan jika tidak ada perbaikan kondisi, pertumbuhan bisa minus.

Merespons situasi tersebut, Jokowi meminta jajarannya tidak pesimistis dan menyiapkan berbagai skenario. “Kita juga tidak boleh pesimistis. Kita harus tetap berikhtiar, berusaha, bekerja kerasa dalam upaya pemulihan. Baik pemulihan kesehatan maupun pemulihan ekonomi. Dan insyallah, kita bisa,” ujar dia saat membuka Sidang Kabinet Paripurna kemarin.

Jokowi juga meminta jajarannya tetap waspada akan adanya dampak lanjutan dari Covid-19 terhadap ekonomi pada 2021. Dia minta agar dihitung dengan cermat potensi, peluang, dan berbagai risiko yang bakal terjadi, baik di level domestik maupun global.

Untuk itu, mengingatkan agar tetap fokus pada misi besar pemerintah, yakni reformasi strukturasi untuk percepatan dan pemerataan pembangunan, baik itu berupa reformasi regulasi, reformasi birokrasi, reformasi dalam penigkatan produktivitas, maupun transformasi ekonomi. ‘’Itulah misi besar kita,” jelasnya.

Dia lantas menuturkan bawa kondisi yang dialami Indonsia menimpa hampir semua negara. Lembaga keuangan internasional juga telah melaporkan bahwa tahun ini akan memasuki resesi dunia, yang pertumbuhan ekonomi globalnya akan minus.’’ Itung-itungan terakhir yang saya terima, bisa tumbuh negatif, ekonomi global bisa tumbuh negatif -2,8%. Artinya ketarik sampai ke -6%,” tuturnya.

Sri Mulyani membenarkan kuartal II dan III diprediksi menjadi kondisi yang terberat bagi pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengingat beratnya tekanan ekonomi pada kuartal tersebut. “Jadi, pertemubuhan ekonomi kita untuk kuartal II, III ini tekanannya akan sangat berat,” katanya seusai Sidang Kabinet Paripurna kemarin.

Kondisi yang terjadi akan membuat pertumbuhan ekonomi berada di titik mendekati nol, bahkan untuk kuartal II bisa bisa negatif. Hal serupa bisa terjadi juga di kuartal III jika kondisi tidak membaik.

“Kuartal kedua adalah kuartal yang paling berat di mana pertumbuhan ekonomi bisa turun di 0,3% atau hampir mendekati 0 atau bahkan negative growth di -2,6%. Kuartal ketiga akan ada recovery di 1,5% dan 2,8%. Kalau kita kondisinya akan berat cukup panjang, kemungkinan akan terjadi resesi di mana dua kuartal berturut-berturut GDP-nya bisa negatif,” paparnya.

Pemerintah, lanjut dia, akan berusaha mengatasi hal ini dan berharap pada kuartal terakhir tahun ini sudah proses pemulihan.

“Kita harap recovery sudah mulai di kuartal terakhir tahun ini, dan momentum ini akan terus diakselerasi di tahun 2021,” tuturnya.

Yang memprihatinkan, kondisi yang terjadi bisa meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran. Sri Mulyani mengungkapkan, jika kondisi sangat berat maka tambahan angka kemiskinan bisa menyentuh angka 3 juta lebih. “Dalam skenario berat bisa naik tambahan 1,1 juta orang atau dalam skenario lebih berat, kita akan menghadapi tambahan kemiskinan 3,78 juta orang,” katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Beban Berat Kelas Menengah...
Beban Berat Kelas Menengah di Tengah Kenaikan Pertamax jadi Rp16.250/Liter
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Wali Kota Tangsel Dorong...
Wali Kota Tangsel Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak UMKM-Ekonomi Kerakyatan
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I 2026
Rekomendasi
BOLT Berkurban: Satu...
BOLT Berkurban: Satu Momen, Seribu Kebaikan
Amnesty International...
Amnesty International Desak TNI Tak Dilibatkan Jaga Demo Mahasiswa Hari Ini
Babak Baru Kasus Erin...
Babak Baru Kasus Erin Wartia, Pelapor Serahkan Dokumen LPSK ke Penyidik
Berita Terkini
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 8,2 Juta Batang Rokok Ilegal di Jalur Merak-Bakauheni
Operasional Multi Lokasi...
Operasional Multi Lokasi Kini Bisa Dipantau dari Satu Dashboard
Distributor di Kaltim...
Distributor di Kaltim Ikuti Factory Visit SIG untuk Perkuat Kemitraan
Sambut Libur Sekolah,...
Sambut Libur Sekolah, Jasa Marga Optimalkan One Call Center 133
Pertamina NRE Pasang...
Pertamina NRE Pasang PLTS Pertama di Kapal Angkut Minyak
Pertamina Pangkas 124...
Pertamina Pangkas 124 Anak Usaha, Ada yang di Merger hingga Likuidasi
Infografis
Keterbatasan Strategis...
Keterbatasan Strategis USS Abraham Lincoln: Si ’Benteng Terapung’ yang Tidak Kebal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved