Menaklukkan Lidah Para Bangsawan dengan Manisnya Keripik Pisang
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
(Baca Juga: Ingin Jadi Wirausaha Sosial yang Sukses? Ini Kuncinya)
Titi tak mau menjadi sukses seorang diri. Karenanya, dia terus mendorong komunitas mantan pekerja migran untuk terus berkreasi menghasilkan produk-produk berkualitas. Tak hanya memproduksi keripik, juga produk-produk lainnya yang bisa di ekspor. Apalagi, sebenarnya banyak produk asal Indonesia yang diminati di pasar luar negeri. "Kuncinya ada pada kualitas dan pemenuhan standar yang ditetapkan oleh negara tujuan," ungkapnya. Sejatinya, kata dia, pelaku UMKM Indonesia mampu menembus pasar ekpor, hanya saja sebagian besar tidak memiliki rasa percaya diri. Sedangkan sebagian lainnya enggan untuk mengikuti standar kualitas yang ditetapkan oleh negara tujuan.
Kebanyakan, kata dia, para pelaku UMKM menganggap menembus pasar ekspor sulit. Padahal, jika mengikuti standar dan persyaratan administratif misalnya uji laboratorium, sertifikasi kemananan dan kesehatan produk, juga sertifikasi halal yang diwajibkan oleh negara-negara di Timur Tengah, produk yang berkualitas akan mudah diterima.
Dia menceritakan pengalamannya saat berhasil menaklukkan Eropa. Awalnya, produk keripik yang bernaung dibawah label N&N International itu dikirimkan melalui kontainer yang disewa bersama-sama dengan eksportir lain. Namun, karena dirinya berhasil memenuhi standar mutu negara tujuan, termasuk soal rasa dan kualitas produk, permintaan dari pembeli pun melonjak tajam.
"Sekarang bisa 100 ton per hari per item. Itu bukan keripik produksi saya sendiri, tetapi dengan UMKM lain yang memenuhi standar yang sama, kualitas yang sama, dan ikut pelatihan yang sama," urainya. Apa yang dikatakan Titi memang tidak berlebihan. Saat dicoba, keripik tempe dan rengginang yang diproduksinya terasa renyah dan gurih.
Terkadang, lanjut dia, UMKM dari dalam negeri ingin produknya laku di luar negeri, tetapi saat diminta meningkatkan kualitas produk tidak memiliki semangat dan kemauan yang kuat. "Contohnya ada UMKM yang memproduksi minuman herbal dari jahe dan sangat diminati di pasar luar negeri, namun tatkala dilakukan pengujian laboratorium, kadar aluminiumnya tinggi. Saat diminta untuk memperbaiki kualitasnya dengan menggunakan panci yang lebih baik, dia tidak bersedia. Akhirnya produknya tidak bisa di ekspor," ujar Titi. Dia berpendapat, sedikitnya jumlah UMKM yang go global dikarenakan belum ada kemauan untuk memperbaiki kualitas produk sesuai standar.
Selain itu, kalangan UMKM masih banyak yang sudah merasa puas dengan produk yang dihasilkan. Karena itu, Titi terus mendorong para UMKM lainnya untuk bersemangat naik kelas. "Untuk pembiayaan, dan skill pemasaran ada pemerintah dan BUMN yang sudah memberikan bantuan, seharusnya teman-teman UMKM bisa lebih kreatif," tuturnya.
Titi mengaku beruntung sejak menjadi UMKM mitra binaan PT Pertamina (Persero) dirinya semakin bersemangat dan percaya diri untuk terus memperluas pasar ke mancanegara. "Semua berawal dari keinginan seperti UMKM lain menjadi mitra binaan. Banyak sekali keuntungan yang saya dapatkan sebagai mitra binaan Pertamina. Selain mendapatkan fasilitas untuk pemasaran produk melalui pameran, juga pelatihan bagaimana UMKM naik kelas, go digital, hingga go global. Termasuk meningkatkan kualitas produk," ungkapnya.
Selain mendapatkan pelatihan pemasaran, Titi juga mendapatkan bantuan modal. Hal itulah yang membuat dia sangat bersyukur, karena untuk mendapatkan pinjaman dari bank, status Titi tidak bankable. Bersama UMKM binaan lainnya, Titi sering mengikuti kegiatan coaching yang diadakan Pertamina, termasuk melalui pertemuan tatap muka secara daring di saat pandemi seperti sekarang ini.
Pertamina menyediakan aplikasi e-learning dengan panduan kurikulum yang memungkinkan para pelaku UMKM dapat mengikuti pelatihan secara digital sambil tetap menjalankan aktivitasnya. Dengan memiliki jaringan yang luas untuk pemasaran produk, Pertamina dinilai mampu memberdayakan UMKM-UMKM yang belum memiliki akses pemasaran.
Tak hanya pelatihan, Pertamina, kata dia, juga memberikan fasilitas pameran di dalam dan luar negeri sehingga memberikan kesempatan agar produknya lebih dikenal di mancanegara. Bahkan, dalam sebuah pameran yang difasilitasi Pertamina, Titi berhasil meraih kontak ekspor selama dua tahun ke Singapura. Untuk pasar domestik, Titi mendapatkan fasilitas penjualan secara langsung di Halal Park Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dan Halal Park di Hall Lapangan Basket, Senayan, Jakarta. Pertamina juga membantu perluasan pasar untuk memasuki pasar ritel melalui Bright Cafe. Omzet penjualan secara online juga melonjak 40% karena bantuan promosi yang dilakukan Pertamina melalui katalog, website hingga media sosial.
Menjadi UMKM mitra binaan menghadirkan banyak berkah bagi Titi. Dia mencontohkan, saat ini sudah mengantongi sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk dua merek yakni Hj. Neneng untuk produk aneka keripik dan J-Pas untuk produk aneka roti dan jajanan pasar. "Yang mendaftarkan Pertamina, sertifikatnya sudah diterbitkan pada Mei 2020 lalu," katanya. Di masa pandemi saat ini, Titi memaksimalkan produksi roti dan jajanan pasar dengan label J-Pas. Hal ini dilakukan agar para mantan pekerja migran masih mampu menghasilkan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Jadi mereka tetap bisa bekerja dan menghasilkan uang," tuturnya.
Titi menaruh harapan besar kepada Pertamina untuk menjangkau lebih luas lagi para pelaku UMKM di pedalaman, di seluruh pelosok Indonesia, yang sangat membutuhkan pendampingan. Sehingga akan lebih banyak lagi UMKM yang bisa naik kelas dan go global. Dia menilai, Pertamina sebagai salah satu BUMN besar juga bisa mendorong BUMN lain untuk berkolaborasi dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia. Misalnya, Pertamina membantu permodalan, BUMN lain yang membantu pemasaran produk.
Senada dengan Titi yang menaruh perhatian besar terhadap kualitas produk, seorang pelaku UMKM konveksi, Asih Wijayanti, juga merasakan pentingnya menghadirkan produk yang berkualitas agar diterima pasar. Asih, yang sudah 12 tahun menjalankan bisnis konfeksi itu menghadapi gelombang pasang surut saat menjalankan usahanya. Usai mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai karyawan di salah satu BUMN 15 tahun silam, berbekal hobi merajut, Asih memberanikan diri terjun ke usaha konfeksi.
Usaha yang dilakoninya itu tak langsung berjalan mulus, Asih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya yakni varian produk yang diproduksi. "Misalnya tas, orang jika sudah punya terkadang tidak mau beli lagi. Nah, bagaimana caranya agar mau membeli lagi,itu tantangannya," ujarnya kepada SINDOnews. Wanita yang memiliki workshop di Mertasinga, Kecamatan Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini akhirnya menemukan cara agar para pelanggan kembali membeli produknya, yakni melakukan inovasi. Beragam produk mulai dia produksi. Selain tas rajutan, juga tempat penyimpanan sepatu, dan perlengkapan sholat. Namun, Asih gagal mempertahankan produknya.
Asih tak putus asa, dia terus melakukan penyempurnaan. Kali ini dengan meningkatkan kualitas. Produk yang dihasilkan pun semakin beragam dan diterima oleh pasar. "Awalnya ada pesanan tas dari Pertamina, lalu ada masukkan agar kualitas ditingkatkan misalnya kerapihan jahitan dan lainnya," paparnya. Mendapatkan angin segar, Asih pun gencar mengikuti serangkain pelatihan. Pelatihan yang diikuti mencakup peningkatan kualitas produk agar bisa menjangkau segmen pasar yang lebih luas, juga cara memasarkan produk secara digital, termasuk pelatihan agar produk yang dihasilkan bisa go global. "Pertamina juga membantu pemasarannya," ungkapnya. Hal itu berlangsung sejak Asih menjadi UMKM mitra binaan PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap.
Dengan mempertahankan kualitas, Asih berhasil meningkatkan volume produksi dan omset penjualan. Tak hanya itu, produk Asih, juga dilirik oleh pembeli dari luar negeri. Bahkan, Asih sempat tak mampu memenuhi kebutuhan pembeli asal Jepang dan Hongkong yang memesan satu juta tas berbahan kulit dalam waktu tiga bulan karena keterbatasan tenaga kerja. "Alhamdulillah sekarang sudah mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar," ungkapnya.
Asih pun berhasil membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lainnya sehingga meningkatkan taraf hidup mereka yang terlibat. Termasuk para pekerja industri garmen asal Jabodetabek yang harus pulang kampung karena efek pandemi Covid-19. "Mereka saya libatkan untuk kegiatan produksi agar tidak menganggur," cetusnya. Produk kerajinan tangan Asih dengan brand AW kini semakin dikenal luas. Selain pinjaman lunak, Pertamina juga membantu pemasaran produk-produk AW, termasuk menjadikan produk pernak-perniknya menjadi rujukan dan salah satu kerajinan yang direkomendasikan.
Usahanya yang sempat anjlok di awal pandemi Covid-19 membut Asih hampir putus asa. Namun, secuil harapan muncul saat ada pesanan merancang baju hazmat bagi kebutuhan paramedis datang. Berbekal pengalaman dan komitmen menjaga kualitas produknya, Asih berhasil memenuhi pesanan baju hazmat dari Baznas sebesar 15 ribu unit, Pertamina, Dompet Dhuafa dan RS Darurat Wisma Atlet Jakarta masing-masing 5.000 baju hazmat. Asih bersyukur, melalui pembinaan dari Pertamina usahanya semakin berkibar dan dirinya terus meningkatkan kualitas produknya, serta memperluas pemasaran dengan mengikuti pelatihan digital marketing.
Mendorong UMKM Naik Kelas
Titi tak mau menjadi sukses seorang diri. Karenanya, dia terus mendorong komunitas mantan pekerja migran untuk terus berkreasi menghasilkan produk-produk berkualitas. Tak hanya memproduksi keripik, juga produk-produk lainnya yang bisa di ekspor. Apalagi, sebenarnya banyak produk asal Indonesia yang diminati di pasar luar negeri. "Kuncinya ada pada kualitas dan pemenuhan standar yang ditetapkan oleh negara tujuan," ungkapnya. Sejatinya, kata dia, pelaku UMKM Indonesia mampu menembus pasar ekpor, hanya saja sebagian besar tidak memiliki rasa percaya diri. Sedangkan sebagian lainnya enggan untuk mengikuti standar kualitas yang ditetapkan oleh negara tujuan.
Kebanyakan, kata dia, para pelaku UMKM menganggap menembus pasar ekspor sulit. Padahal, jika mengikuti standar dan persyaratan administratif misalnya uji laboratorium, sertifikasi kemananan dan kesehatan produk, juga sertifikasi halal yang diwajibkan oleh negara-negara di Timur Tengah, produk yang berkualitas akan mudah diterima.
Dia menceritakan pengalamannya saat berhasil menaklukkan Eropa. Awalnya, produk keripik yang bernaung dibawah label N&N International itu dikirimkan melalui kontainer yang disewa bersama-sama dengan eksportir lain. Namun, karena dirinya berhasil memenuhi standar mutu negara tujuan, termasuk soal rasa dan kualitas produk, permintaan dari pembeli pun melonjak tajam.
"Sekarang bisa 100 ton per hari per item. Itu bukan keripik produksi saya sendiri, tetapi dengan UMKM lain yang memenuhi standar yang sama, kualitas yang sama, dan ikut pelatihan yang sama," urainya. Apa yang dikatakan Titi memang tidak berlebihan. Saat dicoba, keripik tempe dan rengginang yang diproduksinya terasa renyah dan gurih.
Terkadang, lanjut dia, UMKM dari dalam negeri ingin produknya laku di luar negeri, tetapi saat diminta meningkatkan kualitas produk tidak memiliki semangat dan kemauan yang kuat. "Contohnya ada UMKM yang memproduksi minuman herbal dari jahe dan sangat diminati di pasar luar negeri, namun tatkala dilakukan pengujian laboratorium, kadar aluminiumnya tinggi. Saat diminta untuk memperbaiki kualitasnya dengan menggunakan panci yang lebih baik, dia tidak bersedia. Akhirnya produknya tidak bisa di ekspor," ujar Titi. Dia berpendapat, sedikitnya jumlah UMKM yang go global dikarenakan belum ada kemauan untuk memperbaiki kualitas produk sesuai standar.
Selain itu, kalangan UMKM masih banyak yang sudah merasa puas dengan produk yang dihasilkan. Karena itu, Titi terus mendorong para UMKM lainnya untuk bersemangat naik kelas. "Untuk pembiayaan, dan skill pemasaran ada pemerintah dan BUMN yang sudah memberikan bantuan, seharusnya teman-teman UMKM bisa lebih kreatif," tuturnya.
Titi mengaku beruntung sejak menjadi UMKM mitra binaan PT Pertamina (Persero) dirinya semakin bersemangat dan percaya diri untuk terus memperluas pasar ke mancanegara. "Semua berawal dari keinginan seperti UMKM lain menjadi mitra binaan. Banyak sekali keuntungan yang saya dapatkan sebagai mitra binaan Pertamina. Selain mendapatkan fasilitas untuk pemasaran produk melalui pameran, juga pelatihan bagaimana UMKM naik kelas, go digital, hingga go global. Termasuk meningkatkan kualitas produk," ungkapnya.
Selain mendapatkan pelatihan pemasaran, Titi juga mendapatkan bantuan modal. Hal itulah yang membuat dia sangat bersyukur, karena untuk mendapatkan pinjaman dari bank, status Titi tidak bankable. Bersama UMKM binaan lainnya, Titi sering mengikuti kegiatan coaching yang diadakan Pertamina, termasuk melalui pertemuan tatap muka secara daring di saat pandemi seperti sekarang ini.
Pertamina menyediakan aplikasi e-learning dengan panduan kurikulum yang memungkinkan para pelaku UMKM dapat mengikuti pelatihan secara digital sambil tetap menjalankan aktivitasnya. Dengan memiliki jaringan yang luas untuk pemasaran produk, Pertamina dinilai mampu memberdayakan UMKM-UMKM yang belum memiliki akses pemasaran.
Tak hanya pelatihan, Pertamina, kata dia, juga memberikan fasilitas pameran di dalam dan luar negeri sehingga memberikan kesempatan agar produknya lebih dikenal di mancanegara. Bahkan, dalam sebuah pameran yang difasilitasi Pertamina, Titi berhasil meraih kontak ekspor selama dua tahun ke Singapura. Untuk pasar domestik, Titi mendapatkan fasilitas penjualan secara langsung di Halal Park Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dan Halal Park di Hall Lapangan Basket, Senayan, Jakarta. Pertamina juga membantu perluasan pasar untuk memasuki pasar ritel melalui Bright Cafe. Omzet penjualan secara online juga melonjak 40% karena bantuan promosi yang dilakukan Pertamina melalui katalog, website hingga media sosial.
Menjadi UMKM mitra binaan menghadirkan banyak berkah bagi Titi. Dia mencontohkan, saat ini sudah mengantongi sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk dua merek yakni Hj. Neneng untuk produk aneka keripik dan J-Pas untuk produk aneka roti dan jajanan pasar. "Yang mendaftarkan Pertamina, sertifikatnya sudah diterbitkan pada Mei 2020 lalu," katanya. Di masa pandemi saat ini, Titi memaksimalkan produksi roti dan jajanan pasar dengan label J-Pas. Hal ini dilakukan agar para mantan pekerja migran masih mampu menghasilkan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Jadi mereka tetap bisa bekerja dan menghasilkan uang," tuturnya.
Titi menaruh harapan besar kepada Pertamina untuk menjangkau lebih luas lagi para pelaku UMKM di pedalaman, di seluruh pelosok Indonesia, yang sangat membutuhkan pendampingan. Sehingga akan lebih banyak lagi UMKM yang bisa naik kelas dan go global. Dia menilai, Pertamina sebagai salah satu BUMN besar juga bisa mendorong BUMN lain untuk berkolaborasi dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia. Misalnya, Pertamina membantu permodalan, BUMN lain yang membantu pemasaran produk.
Senada dengan Titi yang menaruh perhatian besar terhadap kualitas produk, seorang pelaku UMKM konveksi, Asih Wijayanti, juga merasakan pentingnya menghadirkan produk yang berkualitas agar diterima pasar. Asih, yang sudah 12 tahun menjalankan bisnis konfeksi itu menghadapi gelombang pasang surut saat menjalankan usahanya. Usai mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai karyawan di salah satu BUMN 15 tahun silam, berbekal hobi merajut, Asih memberanikan diri terjun ke usaha konfeksi.
Usaha yang dilakoninya itu tak langsung berjalan mulus, Asih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya yakni varian produk yang diproduksi. "Misalnya tas, orang jika sudah punya terkadang tidak mau beli lagi. Nah, bagaimana caranya agar mau membeli lagi,itu tantangannya," ujarnya kepada SINDOnews. Wanita yang memiliki workshop di Mertasinga, Kecamatan Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini akhirnya menemukan cara agar para pelanggan kembali membeli produknya, yakni melakukan inovasi. Beragam produk mulai dia produksi. Selain tas rajutan, juga tempat penyimpanan sepatu, dan perlengkapan sholat. Namun, Asih gagal mempertahankan produknya.
Asih tak putus asa, dia terus melakukan penyempurnaan. Kali ini dengan meningkatkan kualitas. Produk yang dihasilkan pun semakin beragam dan diterima oleh pasar. "Awalnya ada pesanan tas dari Pertamina, lalu ada masukkan agar kualitas ditingkatkan misalnya kerapihan jahitan dan lainnya," paparnya. Mendapatkan angin segar, Asih pun gencar mengikuti serangkain pelatihan. Pelatihan yang diikuti mencakup peningkatan kualitas produk agar bisa menjangkau segmen pasar yang lebih luas, juga cara memasarkan produk secara digital, termasuk pelatihan agar produk yang dihasilkan bisa go global. "Pertamina juga membantu pemasarannya," ungkapnya. Hal itu berlangsung sejak Asih menjadi UMKM mitra binaan PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap.
Dengan mempertahankan kualitas, Asih berhasil meningkatkan volume produksi dan omset penjualan. Tak hanya itu, produk Asih, juga dilirik oleh pembeli dari luar negeri. Bahkan, Asih sempat tak mampu memenuhi kebutuhan pembeli asal Jepang dan Hongkong yang memesan satu juta tas berbahan kulit dalam waktu tiga bulan karena keterbatasan tenaga kerja. "Alhamdulillah sekarang sudah mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar," ungkapnya.
Asih pun berhasil membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lainnya sehingga meningkatkan taraf hidup mereka yang terlibat. Termasuk para pekerja industri garmen asal Jabodetabek yang harus pulang kampung karena efek pandemi Covid-19. "Mereka saya libatkan untuk kegiatan produksi agar tidak menganggur," cetusnya. Produk kerajinan tangan Asih dengan brand AW kini semakin dikenal luas. Selain pinjaman lunak, Pertamina juga membantu pemasaran produk-produk AW, termasuk menjadikan produk pernak-perniknya menjadi rujukan dan salah satu kerajinan yang direkomendasikan.
Usahanya yang sempat anjlok di awal pandemi Covid-19 membut Asih hampir putus asa. Namun, secuil harapan muncul saat ada pesanan merancang baju hazmat bagi kebutuhan paramedis datang. Berbekal pengalaman dan komitmen menjaga kualitas produknya, Asih berhasil memenuhi pesanan baju hazmat dari Baznas sebesar 15 ribu unit, Pertamina, Dompet Dhuafa dan RS Darurat Wisma Atlet Jakarta masing-masing 5.000 baju hazmat. Asih bersyukur, melalui pembinaan dari Pertamina usahanya semakin berkibar dan dirinya terus meningkatkan kualitas produknya, serta memperluas pemasaran dengan mengikuti pelatihan digital marketing.
Mendorong UMKM Naik Kelas
Lihat Juga :