Menaklukkan Lidah Para Bangsawan dengan Manisnya Keripik Pisang

loading...
Menaklukkan Lidah Para Bangsawan dengan Manisnya Keripik Pisang
Nurchaeti (39) sedang menyiapkan roti dengan label J-Pas di workshop-nya Kamis (29/10/2020). Foto/Anton Chrisbiyanto
A+ A-
JAKARTA - Rumah sederhana di jalan Manggis Dalam III Nomor 16 RT 02 RW 01 Ciganjur Jakarta Selatan itu tampak lengang. Atmosfer perkampungan Jakarta begitu terasa. Ada dua bangunan yang dipisahkan oleh halaman yang tidak terlalu luas. Di tengah dua bangunan itu teronggok sebuah mobil Daihatsu Sigra berkelir abu-abu. Atap mobil jenis low cost green car (LCGC) itu dijadikan sebagai tempat jemuran pakaian.

"Ibu ada di rumah seberang," ujar seorang anak perempuan dari dalam sebuah rumah berlantai dua yang terlihat kokoh meskipun catnya mulai kusam. Suasana bangunan di seberangnya juga biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Sebagian berdinding tripleks, separuhnya berdinding bata merah. Ruang tamu berukuran 4x5 meter yang bersih dan lega hanya berisikan satu set sofa berwarna merah dengan perabotan sederhana. Tak banyak hiasan dinding yang terpasang. Terpampang foto berukuran besar seorang perempuan bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Juga foto seorang perempuan bersama Presiden Jokowi berada di istana negara dan di banyak kegiatan lainnya. Ada juga foto berukuran besar seorang perempuan yang menerima penghargaan bertajuk Local Hero dari salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

(Baca Juga: Masih Tersisa 2,9 Juta Slot Penerima BLT UMKM, Nih Syarat Pengajuannya)



Namun, siapa sangka, penghuni rumah sederhana dan biasa saja itu adalah perempuan yang luar biasa. Dia adalah Nurchaeti, mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri atau biasa dikenal dengan pekerja migran, yang sukses menaklukkan pasar global dengan keripik pisang. Penampilan Titi, begitu dia disapa, juga biasa saja. Tak ada kesan glamor meskipun kini dia sudah menjadi orang sukses. Penampilannya sederhana seperti orang kebanyakan di sekitar tempat tinggalnya. Tak ada yang mencolok. Namun, di balik semua kesederhanaan itu, terpancar aura seorang pejuang tangguh dan petarung andal dengan semangat membara dalam mengarungi ganasnya persaingan.

"Saya dulu pernah menjadi pekerja migran, satu tahun di Malaysia dan dua tahun di Singapura," ujar Titi kepada SINDOnews Kamis (29/10/2020).

Meskipun mendapatkan gaji cukup besar dengan mata uang dolar Singapura, namun Titi mengaku tak betah berlama-lama sebagai pekerja migran di negeri orang. Apalagi, sebagai single parent, Titi meninggalkan dua anaknya yang masih balita di Jakarta. "Saat itu anak saya yang pertama berumur dua tahun, yang kedua baru delapan bulan. Jadi, saya putuskan untuk kembali ke Tanah Air," ungkapnya.



Sebagai single parent, tentunya Titi harus berjuang ekstra keras untuk memperhatikan anak-anaknya. Tak hanya sekadar mengasuh, tetapi juga memenuhi kebutuhan hidupnya. Akhirnya, perempuan yang pernah mengenyam pendidikan farmasi ini mencoba usaha laundry kiloan. Bisnis yang dilakoninya itu awalnya tak berjalan mulus, apalagi banyak industri sejenis yang ada di sekitar tempat usahanya. Namun, Titi tak patah arang, dia terus menekuni bisnis itu hingga membuka enam cabang. "Yang membantu saya untuk mengembangkan bisnis itu teman-teman mantan pekerja migran," ungkapnya.
halaman ke-1 dari 7
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top