Menguak Persaingan Bisnis Tidak Sehat dengan Memakai Buzzer

Senin, 18 Januari 2021 - 21:39 WIB
loading...
Menguak Persaingan Bisnis...
Penggunaan buzzer dalam dunia bisnis usaha saat ini juga mulai marak terjadi. Banyak yang percaya jika buzzer memiliki pengaruh yang cukup besar di sosial media. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Dalam menjalankan bisnis usaha , adanya persaingan pasar memang bukan sebuah hal yang baru. Baik dalam usaha yang memang memiliki peluang pasar cukup bagus, atau pun peluang usaha yang pasarnya tidak terlalu bagus.

Baca Juga: Hotman Paris Wanti-Wanti Penggunaan Buzzer yang Fitnah Produk AFC

Banyak cara yang dilakukan para pengusaha agar usahanya tidak kalah bersaing dengan peluang usaha lainnya, sehingga produk-produknya masih bisa bertahan. Bahkan berkembang pesat di tengah persaingan pasar yang semakin ramai.

Dalam menghadapi dunia bisnis usaha serta kompetitor, terlebih dulu lihatlah potensi pasar yang ada. Usahakan juga untuk mencari informasi tentang siapa saja pesaing yang kompeten saat ini, sehingga tidak akan salah langkah dalam menentukan strategi.

Dengan mengetahui siapa saja para kompetitor, secara tidak langsung akan menentukan bagaimana cara menghadapinya. Perubahan minat dan kebutuhan para konsumen, tentunya juga akan menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan.

Penggunaan buzzer dalam dunia bisnis usaha saat ini juga mulai marak terjadi. Banyak yang percaya jika buzzer memiliki pengaruh yang cukup besar di sosial media. Dalam kasus yang dialami PT H&E Dermatech Indonesia (AFC Indonesia) contohnya, banyak sekali buzzer-buzzer yang dengan sengaja aktif menyerang AFC Indonesia dengan tujuan untuk merusak nama baik produk AFC.

"Kami memang mendengar informasi di kalangan teman-teman buzzer bahwa sedang ada gerakan untuk menyerang produk-produk AFC Indonesia," ujar seorang buzzer bayaran yang tidak mau disebutkan namanya.

Baca Juga: Sisi Gelap Anak Muda Main Saham

Bagi oknum buzzer tersebut, dirinya bersama rekan-rekan melancarkan serangan-serangan ke produk-produk AFC Indonesia dengan tujuan untuk menghalangi penjualannya.

"Jadi strateginya adalah, kami menyebarkan berita-berita negatif di media sosial supaya menjadi viral sambil me-mention akun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ya, tujuannya supaya menghalangi penjualan produk AFC," lanjutnya.

Namun oknum buzzer tersebut juga tidak mau terlibat lebih jauh dalam persaingan usaha yang tidak sehat begini. Apalagi oknum buzzer tersebut juga mendengar bahwa ada akun-akun Instagram yang dibeli secara khusus untuk menyebarkan informasi negatif tentang produk AFC sambil terus memprovokasi BPOM.

"Menurut kami, ya kalau mau menggunakan buzzer, pergunakanlah untuk mempromosikan produk-produknya dengan cara menjelaskan keunggulan-keunggulannya. Bukan dengan menjegal kompetitor dengan cara-cara yang tidak etis dan curang, seperti melaporkannya ke BPOM. Bersainglah yang sehat," tambahnya.

Pada akhirnya, kalau persaingan usaha dengan serta merta menggunakan jasa buzzer dan menghalalkan segala cara, pasti akan berdampak buruk kedepannya. Seperti ketika kampanye Pilpres 2019 yang lalu. Para buzzer menghalalkan segala cara apapun untuk membela yang bayar, bahkan ada yang sampai memberikan perintah untuk menyebarkan berita-berita hoax.

“Ini sangat tidak benar. Kami tidak mau kejadian Pilpres 2019 terulang kembali dimana berita-berita hoax dengan masifnya merajalela di media sosial. Hasilnya bisa dilihat sendiri, Indonesia menjadi terpecah belah. Ini yang tidak kami harapkan. Jika mau bersaing, bersainglah yang dengan cara yang jujur dan adil,” tutupnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Solusi Logistik Modern:...
Solusi Logistik Modern: Kunci Sukses Bisnis Tekan Biaya dan Efisiensi Operasional
Implementasi ESG, Dunia...
Implementasi ESG, Dunia Usaha Perlu Mitigasi Perubahan Iklim Secara Terukur
Membaca Peluang di Tengah...
Membaca Peluang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Perempuan Pengusaha Tekankan Kolaborasi
Awas! Indonesia Memasuki...
Awas! Indonesia Memasuki Era Masyarakat Menua, Penduduk Lansia Capai 11,93%
Dunia Usaha Butuh Ketenangan...
Dunia Usaha Butuh Ketenangan dan Kepastian, Kadin Tolak Wacana Penahanan Restitusi Pajak
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi 8% Bukan Mustahil Dicapai, Ini Syarat-syaratnya
Gaji Belum Bayar, Para...
Gaji Belum Bayar, Para Influencer Tuntut Badan Propaganda Israel Lebih dari Rp10 Miliar
Marcella Santoso Dituntut...
Marcella Santoso Dituntut 17 Tahun, FSPI: Ungkap Aliran Dana Buzzer
Pesan Suryopratomo untuk...
Pesan Suryopratomo untuk Pemerintah: Berikan Kepercayaan kepada Dunia Usaha
Rekomendasi
Meritokrasi di TNI,...
Meritokrasi di TNI, Kapuspen: Jabatan Tak Ditentukan seperti Urut Kacang Tapi Kompetensi
Jaga Kredibilitas Negara,...
Jaga Kredibilitas Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Korupsi MBG
PCMB SPMB Jabar 2026...
PCMB SPMB Jabar 2026 Diperpanjang, Berikut Jadwal Terbarunya
Berita Terkini
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
Jakpro Gandeng Feel...
Jakpro Gandeng Feel Good Network Garap Naming Rights JIS
Bareng Luhut Temui Prabowo,...
Bareng Luhut Temui Prabowo, Chatib Basri Buka Suara soal Isu Gantikan Purbaya
Mahasiswa UPJ Belajar...
Mahasiswa UPJ Belajar Analisis Fundamental dan Teknikal di Jaya Investment Week 2026 bersama MNC Sekuritas
IHSG Ditutup Melejit...
IHSG Ditutup Melejit 7,57% Sore Ini, 708 Saham Menghijau
Grab Ambil Alih Kendali...
Grab Ambil Alih Kendali Superbank, Fokus Perluas Akses Pembiayaan Digital
Infografis
20 PTN dengan Peminat...
20 PTN dengan Peminat Terbanyak di SNBP 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved