UE Bakal Lebih Mudah Menemukan Pemasok Minyak Baru, Tapi Tidak dengan Gas Rusia

Rabu, 04 Mei 2022 - 21:47 WIB
loading...
UE Bakal Lebih Mudah...
Pengamat menilai Uni Eropa (UE) bakal lebih mudah menggantikan minyak Rusia dibandingkan pasokan gasnya. Seperti diketahui 27 negara anggota UE bersiap menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia. Foto/Dok
A A A
BRUSSELS - Pengamat menilai Uni Eropa (UE) bakal lebih mudah menggantikan minyak Rusia dibandingkan pasokan gasnya. Seperti diketahui 27 negara anggota UE bersiap menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia dengan menargetkan industri minyak Moskow.

Kepala peneliti minyak dan gas di Investec, Nathan Piper mengatakan, untuk minyak ada lebih banyak pilihan untuk mendapatkan pasokan alternatif, dibandingkan dengan gas yang diangkut paling sering melalui pipa.

Baca Juga: Uni Eropa Bakal Jatuhkan Sanksi Baru ke Rusia, Minyak dan Bank Jadi Target

Dia menambahkan, lebih sulit bagi negara-negara Uni Eropa yang terkurung daratan untuk menemukan sumber-sumber baru. Piper juga menambahkan, Jerman kemungkinan tidak keberatan dengan kebijakan melarang impor minyak Rusia.

Namun untuk mematikan pasokan gas Rusia yang merupakan 40% dari total impornya, akan memakan waktu bertahun-tahun bagi Jerman. "Rusia bisa pergi, jika Anda ingin mengejar minyak. Tapi bagaimana kalau mengurangi gas," tambahnya.

"Mereka bisa menaikkan harga, mengurangi volume. Mereka memiliki banyak daya tawar," papar Piper.

Di tempat lain, lembaga penelitian energi EWI mengatakan Jerman, harus membatasi penggunaan gas mulai dari sekarang untuk mempersiapkan kemungkinan pemutusan dari Rusia di masa depan.

Uniper, salah satu perusahaan energi terbesar Jerman, juga memperingatkan, larangan Uni Eropa terhadap minyak Rusia dapat mendorong Moskow untuk menghentikan aliran gas ke arah barat.

Bayar Gas Rusia Pakai Rubel Bikin Bingung

Pada pekan lalu, perusahaan energi menerangkan, bakal membayar dengan mata uang euro yang kemudian dikonversi menjadi rubel untuk memenuhi permintaan Kremlin agar semua transaksi pembelian gas dilakukan dalam mata uang Rusia.

"Kami menganggap konversi pembayaran sesuai dengan undang-undang sanksi dan keputusan Rusia memungkinkan hal itu," kata seorang juru bicara Uniper kepada BBC.

Sedangkan perusahaan energi Eropa lainnya dilaporkan bersiap untuk melakukan hal yang sama di tengah kekhawatiran tentang pemotongan pasokan.

Baca Juga: Giliran Vodka Rusia Diembargo AS, Uni Eropa dan Sekutu Lainnya Bakal Ngekor

Pada akhir Maret, Rusia mengatakan, negara-negara yang tidak ramah harus mulai membayar minyak dan gasnya dalam rubel untuk menopang mata uangnya setelah sekutu Barat membekukan miliaran dolar yang dipegangnya dalam mata uang asing di luar negeri.

Di bawah dekrit tersebut, importir Eropa harus membayar euro atau dolar ke rekening di Gazprombank dan kemudian mengubahnya menjadi rubel dalam akun kedua di Rusia.

Tercatat mayoritas atau setara 97% kontrak pasokan gas perusahaan Uni Eropa dengan Gazprom menetapkan pembayaran dalam euro atau dolar. Beberapa negara ingin beralih ke gas alam cair (LNG), dimana AS setuju untuk mengirimkan tambahan 15 miliar meter kubik ke Eropa pada akhir tahun.

AS telah melarang impor minyak Rusia dan Inggris, serta berencana menghapusnya pada akhir tahun ini. Uni Eropa sebelumnya telah menetapkan strategi untuk menjadi independen dari bahan bakar fosil Rusia pada tahun 2030, yang mencakup penggunaan sumber daya lebih hijau.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Rekomendasi
Pangeran George Masuk...
Pangeran George Masuk Eton College, Sekolah Elit Keluarga Kerajaan
Festival Perahu Naga...
Festival Perahu Naga Bakal Meriahkan Lagi Puncak Liburan Musim Panas di Hong Kong
Timnas Qatar Hancur-hancuran...
Timnas Qatar Hancur-hancuran di Piala Dunia 2026, Netizen Indonesia Singgung Hukum Karma
Berita Terkini
Lewat Green Zakat, BSI...
Lewat Green Zakat, BSI Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Investasi Emas
Wakil Kepala BPS Canangkan...
Wakil Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Jawa Tengah: Ada Jutaan Harapan di Balik Data Statistik
BRI KKB Tawarkan Bunga...
BRI KKB Tawarkan Bunga Spesial Mulai 3% Flat untuk Pembiayaan Mobil Listrik
Lengkapi Fasilitas Penghuni,...
Lengkapi Fasilitas Penghuni, Club House Dibangun di Citaville Cibubur
Tiga Tahun Program Mangrove...
Tiga Tahun Program Mangrove NHM di Kao Tunjukkan Hasil Nyata bagi Pemulihan Ekosistem Pesisir
PLN Lakukan Pemadaman...
PLN Lakukan Pemadaman Bergilir di Pulau Jawa, Ini Penyebabnya
Infografis
Proxy War, Perang Gaya...
Proxy War, Perang Gaya Baru Amerika Serikat dengan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved