Mendag Sebut Perang Rusia Ukraina Bukan Penyebab Inflasi Tinggi
Rabu, 25 Mei 2022 - 12:20 WIB
loading...
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menjadi salah satu pembicara di panel diskusi bertema Absorbing Commodity Shocks World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss. FOTO/Ist
A
A
A
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, kejadian dunia yang sifatnya negatif dan insidentil seperti perang Rusia Ukraina bukan menjadi penyebab terganggunya arus perdagangan komoditas yang menyebabkan inflasi tinggi, melainkan itu sebagai peringatan.
Hal itu ia sampaikan saat menjadi salah satu pembicara di panel diskusi bertema "Absorbing Commodity Shocks" World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss.
"Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sudah sejak lima tahun lalu menyatakan bahwa perdagangan komoditas dunia perlu ditata ulang. Karena struktur dan sistem yang dominan saat ini lebih banyak dampak buruknya dibandingkan manfaatnya. Khususnya bagi masyarakat di negara berkembang besar seperti Indonesia, Brazil, India dan China," kata Mendag Lutfi, Rabu (25/5/2022).
Baca Juga: Inflasi Tinggi Akibat Situasi Global Harus Diantisipasi, Ini Saran Ekonom
Menurut Mendag Lutfi, yang dibutuhkan adalah perubahan mentalitas dalam memandang perdagangan bebas dunia sebagai lokomotif yang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor non ekonomi.
Konsep yang dikenal dengan ESG (environment, sustainability and governance) saat ini menjadi ukuran pertama dan utama bagi investor dalam menanamkan modalnya. Konsep ESG adalah pembangunan ekonomi berbasis pemeliharaan lingkungan, pembangunan yang berkesinambungan dan tata kelola.
"Kami di Indonesia percaya bahwa komitmen penuh terhadap ESG menciptakan platform untuk membangun rasa saling membutuhkan dan saling percaya antara semua negara di dunia," ujar Mendag Lutfi.
Hal itu ia sampaikan saat menjadi salah satu pembicara di panel diskusi bertema "Absorbing Commodity Shocks" World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss.
"Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sudah sejak lima tahun lalu menyatakan bahwa perdagangan komoditas dunia perlu ditata ulang. Karena struktur dan sistem yang dominan saat ini lebih banyak dampak buruknya dibandingkan manfaatnya. Khususnya bagi masyarakat di negara berkembang besar seperti Indonesia, Brazil, India dan China," kata Mendag Lutfi, Rabu (25/5/2022).
Baca Juga: Inflasi Tinggi Akibat Situasi Global Harus Diantisipasi, Ini Saran Ekonom
Menurut Mendag Lutfi, yang dibutuhkan adalah perubahan mentalitas dalam memandang perdagangan bebas dunia sebagai lokomotif yang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor non ekonomi.
Konsep yang dikenal dengan ESG (environment, sustainability and governance) saat ini menjadi ukuran pertama dan utama bagi investor dalam menanamkan modalnya. Konsep ESG adalah pembangunan ekonomi berbasis pemeliharaan lingkungan, pembangunan yang berkesinambungan dan tata kelola.
"Kami di Indonesia percaya bahwa komitmen penuh terhadap ESG menciptakan platform untuk membangun rasa saling membutuhkan dan saling percaya antara semua negara di dunia," ujar Mendag Lutfi.
Lihat Juga :