Cemas dengan Suku Bunga The Fed, Harga Minyak Dunia Memanas
Rabu, 21 September 2022 - 11:13 WIB
loading...
Harga minyak dunia naik jelang pengumuman The Fed. Foto/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak mentah mengalami rebound pagi ini setelah sempat tertekan pada Rabu (21/9/2022), menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve ( The Fed ). Lonjakan Fed funds rate dikhawatirkan dapat membuat konsumsi melemah sekaligus mengancam permintaan bahan bakar.
Baca juga: Harga Minyak Masih Tinggi, Jangan Ngarep Harga BBM Diturunkan
Data perdagangan hingga pukul 10:25 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak November tumbuh 0,25% menjadi USD90,86 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman November naik 0,23% sebesar USD84,12 per barel.
Sejumlah analis menilai sentimen pasar minyak masih berasal dari ketakutan terhadap kebijakan pengetatan dari The Fed yang dikhawatirkan bakal membawa perlambatan ekonomi atau resesi.
"Sentimen di pasar tetap bearish karena kekhawatiran bahwa pengetatan moneter yang agresif di AS dan Eropa akan meningkatkan kemungkinan resesi dan penurunan permintaan bahan bakar," kata Toshitaka Tazawa, seorang analis di Fujitomi Securities Co Ltd, dilansir Reuters, Rabu (21/9/2022).
Baca juga: Harga Minyak Masih Tinggi, Jangan Ngarep Harga BBM Diturunkan
Data perdagangan hingga pukul 10:25 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak November tumbuh 0,25% menjadi USD90,86 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman November naik 0,23% sebesar USD84,12 per barel.
Sejumlah analis menilai sentimen pasar minyak masih berasal dari ketakutan terhadap kebijakan pengetatan dari The Fed yang dikhawatirkan bakal membawa perlambatan ekonomi atau resesi.
"Sentimen di pasar tetap bearish karena kekhawatiran bahwa pengetatan moneter yang agresif di AS dan Eropa akan meningkatkan kemungkinan resesi dan penurunan permintaan bahan bakar," kata Toshitaka Tazawa, seorang analis di Fujitomi Securities Co Ltd, dilansir Reuters, Rabu (21/9/2022).
Lihat Juga :