Kena Batunya! Banyak Pemda di China Terjerat Utang Rp229 Ribu Triliun
Jum'at, 02 Juni 2023 - 14:35 WIB
loading...
Sejumlah pemda di China dibelit utang yang maha dashyat. Foto/CNN
A
A
A
JAKARTA - China benar-benar kena batunya. Ketika banyak negara berkembang terbelit oleh utang yang disodorkan, China sendiri kini tengah diterpa badai utang yang menimpa sejumlah pemerintah daerahnya.
Baca juga: Peringatan China Diabaikan, AS dan Taiwan Tetap Teken Kesepakatan Dagang Baru
Tak pelak, pasar keuangan China merasakan guncangan pertama dari krisis utang pemerintah daerah senilai USD15,3 triliun atau Rp229.500 triliun (kurs Rp15.000). Jumlah utang yang sangat menjulang yang bisa mengancam untuk menggelincirkan perekonomian negara.
Jumat lalu (26/5/2023), Wuhan, sebuah kota di China tengah, secara terbuka menyebutkan nama ratusan debitur dalam sebuah artikel surat kabar lokal, dalam upaya menekan mereka untuk membayar. Biro keuangan lokal Wuhan mencetak daftar 259 entitas yang berutang lebih dari 300 juta yuan (USD65 juta).
Mengutip Financial Review, Jumat (2/6/2023), dengan menulis surat kepada debitur, artikel sepanjang satu halaman itu merupakan upaya untuk mengembalikan uang. Biro Keuangan Wuhan mendesak mereka yang disebutkan namanya untuk segera melakukan kewajiban pembayaran utang.
Tekanan publik terhadap debitur di Wuhan ini datang hanya beberapa hari setelah Kota Kunming di China barat daya dipaksa untuk menyangkal rumor yang berkembang di pasar bahwa pemerintah daerahnya kesulitan membayar utang. Investor menerima pembayaran atas obligasi yang jatuh tempo hanya setelah jam kerja, menunjukkan menit-menit terakhir berebut untuk menemukan dana.
Investor obligasi China menjadi semakin khawatir tentang ketahanan keuangan kendaraan pembiayaan pemerintah daerah (LGFV), yang dibebani dengan utang sekitar USD10 triliun (USD15,3 triliun). Pinjaman oleh entitas ini meledak setelah krisis keuangan, ketika Beijing mendorong LGFV untuk memainkan peran kunci dalam mendanai proyek infrastruktur China, salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
Baca juga: Peringatan China Diabaikan, AS dan Taiwan Tetap Teken Kesepakatan Dagang Baru
Tak pelak, pasar keuangan China merasakan guncangan pertama dari krisis utang pemerintah daerah senilai USD15,3 triliun atau Rp229.500 triliun (kurs Rp15.000). Jumlah utang yang sangat menjulang yang bisa mengancam untuk menggelincirkan perekonomian negara.
Jumat lalu (26/5/2023), Wuhan, sebuah kota di China tengah, secara terbuka menyebutkan nama ratusan debitur dalam sebuah artikel surat kabar lokal, dalam upaya menekan mereka untuk membayar. Biro keuangan lokal Wuhan mencetak daftar 259 entitas yang berutang lebih dari 300 juta yuan (USD65 juta).
Mengutip Financial Review, Jumat (2/6/2023), dengan menulis surat kepada debitur, artikel sepanjang satu halaman itu merupakan upaya untuk mengembalikan uang. Biro Keuangan Wuhan mendesak mereka yang disebutkan namanya untuk segera melakukan kewajiban pembayaran utang.
Tekanan publik terhadap debitur di Wuhan ini datang hanya beberapa hari setelah Kota Kunming di China barat daya dipaksa untuk menyangkal rumor yang berkembang di pasar bahwa pemerintah daerahnya kesulitan membayar utang. Investor menerima pembayaran atas obligasi yang jatuh tempo hanya setelah jam kerja, menunjukkan menit-menit terakhir berebut untuk menemukan dana.
Investor obligasi China menjadi semakin khawatir tentang ketahanan keuangan kendaraan pembiayaan pemerintah daerah (LGFV), yang dibebani dengan utang sekitar USD10 triliun (USD15,3 triliun). Pinjaman oleh entitas ini meledak setelah krisis keuangan, ketika Beijing mendorong LGFV untuk memainkan peran kunci dalam mendanai proyek infrastruktur China, salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
Lihat Juga :