Perlunya Meningkatkan Kesadaran Para Pekerja Ekonomi Gig dari Kerentanan
Kamis, 08 Juni 2023 - 14:23 WIB
loading...
Driver ojol merupakan salah satu pekerja ekonomi gig terbesar di Indonesia. Foto/Sutikno/MPI
A
A
A
JAKARTA - Meningkatnya jumlah pekerja ekonomi gig di Indonesia belum disertai dengan tanggapnya kebijakan untuk melindungi mereka dari kerentanan. Padahal, sebagian besar kelompok pekerja ini memiliki status kerja yang lemah karena hanya berpegang pada kontrak berbasis iuaran/layanan.
Baca juga: CHO dan Tugas Menjaga Kebahagiaan Karyawan di Era Gig Economy
Keadaan ini membuat mereka rentan terhadap ketidakpastian dan guncangan ekonomi. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk melindungi para pekerja dengan karakteristik kerja ekonomi gig.
Peneliti senior The SMERU Research Institute (SMERU), Palmira Permata Bachtiar, menegaskan para pekerja ekonomi gig perlu memahami sumber-sumber kerentanan mereka. Selain guncangan ekonomi, sumber kerentanan lain yang dihadapi kelompok pekerja ini yaitu stres dan waktu kerja yang terlalu tinggi.
"Ditambah lagi kejahatan cyber dan pencurian data pribadi, jebakan keterampilan (skill trap), bias gender dari konsumen, dan lain-lain,” ujar Palmira, di Forum Kajian Pembangunan (FKP) 2023-Seri 1 “Inovasi dalam Melindungi Pekerja Ekonomi Gig", dikutip Kamis (8/6/2023).
Namun, di kalangan pekerja gig sendiri, kesadaran akan kerentanan tersebut masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari berbagai sisi untuk meningkatkan kesadaran tersebut, termasuk dalam hal perlindungan. Para pekerja ini harus sering melihat kasus-kasus pentingnya memiliki jaminan, misalnya dari media masa.
Menurut ekonom World Bank, Putu Sanjiwacika Wibisana, pada masa pandemi semua pekerja gig mengalami penurunan pendapatan, tetapi yang paling terdampak adalah pekerja gig di sektor transportasi karena sifat pekerjaan mereka yang berbasis lokasi dan bergantung pada pertemuan dengan orang lain--yang menjadi terbatas karena adanya pembatasan sosial.
Baca juga: CHO dan Tugas Menjaga Kebahagiaan Karyawan di Era Gig Economy
Keadaan ini membuat mereka rentan terhadap ketidakpastian dan guncangan ekonomi. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk melindungi para pekerja dengan karakteristik kerja ekonomi gig.
Peneliti senior The SMERU Research Institute (SMERU), Palmira Permata Bachtiar, menegaskan para pekerja ekonomi gig perlu memahami sumber-sumber kerentanan mereka. Selain guncangan ekonomi, sumber kerentanan lain yang dihadapi kelompok pekerja ini yaitu stres dan waktu kerja yang terlalu tinggi.
"Ditambah lagi kejahatan cyber dan pencurian data pribadi, jebakan keterampilan (skill trap), bias gender dari konsumen, dan lain-lain,” ujar Palmira, di Forum Kajian Pembangunan (FKP) 2023-Seri 1 “Inovasi dalam Melindungi Pekerja Ekonomi Gig", dikutip Kamis (8/6/2023).
Namun, di kalangan pekerja gig sendiri, kesadaran akan kerentanan tersebut masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari berbagai sisi untuk meningkatkan kesadaran tersebut, termasuk dalam hal perlindungan. Para pekerja ini harus sering melihat kasus-kasus pentingnya memiliki jaminan, misalnya dari media masa.
Menurut ekonom World Bank, Putu Sanjiwacika Wibisana, pada masa pandemi semua pekerja gig mengalami penurunan pendapatan, tetapi yang paling terdampak adalah pekerja gig di sektor transportasi karena sifat pekerjaan mereka yang berbasis lokasi dan bergantung pada pertemuan dengan orang lain--yang menjadi terbatas karena adanya pembatasan sosial.
Lihat Juga :