Dijegal Kenaikan Tarif, Ekspor China Melonjak ke Level Tertinggi

Kamis, 07 November 2024 - 14:20 WIB
loading...
Dijegal Kenaikan Tarif,...
Ekspor China melonjak mencapai level tertinggi pada Oktober di tengah ancaman kenaikan tarif. FOTO/AP Photo
A A A
JAKARTA - Ekspor China melonjak mencapai level tertinggi pada Oktober di tengah ancaman kenaikan tarif. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak Juli 2022 lalu. Bea Cukai China melaporkan pada Kamis (7/11), ekspor meningkat 12,7% menjadi USD309 miliar melebihi perkiraan ekonom. Sementara, kinerja mpor turun 2,3% menjadi USD213 miliar dengan mencatatkan surplus perdagangan sebesar USD96 miliar.

Aliran ekspor telah membantu menutupi pelemahan permintaan domestik, tetapi juga memicu reaksi dari AS, Amerika Selatan, dan Eropa terhadap masuknya barang-barang murah. Sebagai tanggapan, semakin banyak negara yang menaikkan hambatan tarif terhadap barang-barang seperti baja dan kendaraan listrik.

Baca Juga: Jenderal IRGC: AS dan Israel Mungkin Luncurkan Serangan Preemptive Mengeroyok Iran

"Hal ini mungkin sebagian didorong oleh para eksportir yang mencoba untuk mempercepat pengiriman untuk mengurangi dampak dari potensi perang dagang tahun depan," kata Zhang Zhiwei, presiden dan kepala ekonom Pinpoint Asset Management dikutip daru The Edge Malaysia, Kamis (7/11/2024).

"Saya pikir ekonomi akan sedikit membaik pada kuartal keempat, tetapi perang dagang mungkin akan dimulai pada kuartal pertama tahun depan. Kita tidak bisa mengandalkan ekspor untuk menopang perekonomian RRT."

Berdasarkan laporan, ekspor ke AS naik 8,1%, kenaikan terbesar dalam tiga bulan terakhir. Pengiriman ke sebagian besar pasar meningkat dengan kenaikan dua digit ke Asean, Uni Eropa, Afrika Selatan dan Brasil. Pengiriman ke Rusia melonjak hampir 27% pertumbuhan tercepat tahun ini.

Kembalinya Trump ke Gedung Putih akan semakin memperumit prospek kinerja perdagangan China ke depan. Presiden terpilih ini telah mengancam akan mengenakan tarif sebanyak 60% pada barang-barang China sebuah level yang menurut Bloomberg akan menghancurkan perdagangan di antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini.

Hambatan-hambatan baru akan berarti bahwa China mungkin perlu mencari pasar baru untuk produk-produk yang saat ini dijualnya ke AS. Tahun lalu, perusahaan-perusahaan China mengirimkan barang senilai USD500 miliar ke AS, yang merupakan 15% dari nilai seluruh ekspornya.

Baca Juga: Trump Menang Pilpres AS 2024, Apa Artinya bagi Ekonomi Dunia?

Zichun Huang, seorang ekonom China untuk Capital Economics, mengatakan bahwa pungutan-pungutan tersebut akan merugikan sektor ekspor China, tetapi ia memperkirakan pasar-pasar negara berkembang akan mengimbangi sebagian besar kehilangan permintaan dari AS.

"Dampaknya tidak akan terlalu signifikan dibandingkan yang dikhawatirkan banyak orang. Kami pikir mereka dapat menurunkan volume ekspor sekitar 3% dan mungkin baru akan terasa pada paruh kedua 2025," tulis Huang dalam sebuah catatan.

Pertumbuhan ekspor yang cepat dapat membantu China mencapai target pertumbuhan sekitar 5% tahun ini bahkan sebelum Beijing meluncurkan serangkaian langkah-langkah stimulus yang bertujuan untuk menopang permintaan domestik.

Selama enam minggu terakhir, Beijing telah mengumumkan langkah-langkah untuk mendorong perekonomian, dimulai dengan dukungan langsung untuk pasar saham dan perumahan dan kemungkinan akan berlanjut dengan dukungan keuangan untuk pemerintah daerah yang berhutang yang diharapkan dalam beberapa hari ke depan.

Namun, sampai permintaan domestik membaik perusahaan-perusahaan China di banyak industri menghadapi kelebihan kapasitas yang memaksa mereka untuk memangkas harga. Harga ekspor telah jatuh selama lebih dari setahun, mencerminkan jatuhnya biaya produsen domestik yang telah memangkas keuntungan industri.

Oktober secara historis merupakan bulan yang lebih lemah untuk ekspor sebelum terjadi lonjakan dalam dua bulan terakhir tahun ini. Kenaikan ini berasal dari basis yang lemah pada periode yang sama tahun sebelumnya, ketika pengiriman ke luar negeri turun hampir 7%.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
IHSG Berakhir Merayap...
IHSG Berakhir Merayap Naik ke 6.177 Diwarnai Lompatan 353 Saham
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
Rekomendasi
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
MNC University Perkuat...
MNC University Perkuat Kolaborasi dengan Sekolah Mitra melalui Pra-Rapat Kerja Tahun Ajaran 2026/2027
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Belgia Dipaksa Bermain Imbang Lawan Iran
Berita Terkini
Pertamina NRE dan Koperasi...
Pertamina NRE dan Koperasi Kemenkop Bangun PLTS KDKMP Pulau Sembur, Progres Capai 80%
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Vasanta Kembangkan Hunian...
Vasanta Kembangkan Hunian Suburban Berkonsep Alam
PWN 2026 Resmi Digelar...
PWN 2026 Resmi Digelar di JICC, Diikuti 15 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Dorong Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengelolaan Eceng Gondok
Infografis
Balas Dendam ke AS,...
Balas Dendam ke AS, China Naikkan Tarif Impor Jadi 125%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved