Sri Mulyani Buka-bukaan Rendahnya Penetrasi Industri Asuransi Indonesia
Senin, 05 Oktober 2020 - 14:36 WIB
loading...
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membeberkan penetrasi industri asuransi di Indonesia masih rendah, yang dihitung dari persentase premi terhadap PDB. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membeberkan penetrasi industri asuransi di Indonesia masih rendah, yang dihitung dari persentase premi terhadap PDB. Menurut Ani -sapaan akrab Menkeu-, salah satu penyebabnya adalah terbatasnya kemampuan industri untuk mengumpulkan permodalan.
"Pasar industri asuransi Indonesia yang penetrasinya masih sangat rendah diukur dari GDP kita, dan untuk yang syariah dalam hal ini juga lebih rendah lagi. Ini penyebabnya tentu saja adalah karena kapasitas kemampuan untuk menggenerate capital atau modal untuk bisa meningkatkan kemampuan penetrasinya," kata Menkeu Sri Mulyani di Gedung DPR, Senin (5/10/2020).
(Baca Juga: Perluas Pasar Asuransi Syariah, Sri Mulyani Jamin Jaga Kepentingan Domestik )
Lebih lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, masih rendahnya penetrasi industri asuransi juga dikarenakan dikarenakan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Ditambah juga masih rendahnya pemanfaatan teknologi.
"Sementara kapasitas dalam negeri, kita dari sisi capital kompetensi. Dari segi SDM nya dan juga kemampuan teknologi itu perlu dibangun," bebernya.
"Pasar industri asuransi Indonesia yang penetrasinya masih sangat rendah diukur dari GDP kita, dan untuk yang syariah dalam hal ini juga lebih rendah lagi. Ini penyebabnya tentu saja adalah karena kapasitas kemampuan untuk menggenerate capital atau modal untuk bisa meningkatkan kemampuan penetrasinya," kata Menkeu Sri Mulyani di Gedung DPR, Senin (5/10/2020).
(Baca Juga: Perluas Pasar Asuransi Syariah, Sri Mulyani Jamin Jaga Kepentingan Domestik )
Lebih lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, masih rendahnya penetrasi industri asuransi juga dikarenakan dikarenakan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Ditambah juga masih rendahnya pemanfaatan teknologi.
"Sementara kapasitas dalam negeri, kita dari sisi capital kompetensi. Dari segi SDM nya dan juga kemampuan teknologi itu perlu dibangun," bebernya.
Lihat Juga :