Benarkah Vape Jadi Jembatan Lahirnya Perokok Baru?
Selasa, 05 April 2022 - 06:25 WIB
loading...
Para ahli dari University College London mengungkapkan, benarkah produk vape menjadi jembatan lahirnya perokok-perokok baru, ini jawabannya. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Para ahli dari University College London baru-baru ini merilis hasil studi yang menyebutkan bahwa penggunaan vape di kalangan muda di Inggris tidak berkaitan dengan peningkatan konsumsi rokok konvensional.
Studi yang bertajuk “Association of quarterly prevalence of e-cigarette use with ever regular smoking among young adults in England” tersebut menjadi respons terhadap anggapan bahwa produk alternatif menyasar pengguna usia muda, yang dikhawatirkan akan menjembatani mereka untuk menggunakan rokok konvensional.
Baca Juga: Standarisasi Vape Mendesak Demi Melindungi Konsumen
Fakta yang terjadi adalah bahwa vape merupakan jembatan dari pengguna rokok konvensional menuju berhenti merokok. Dengan menyasar kalangan muda berusia 16–24 tahun, studi ini menjadi yang pertama dengan pendekatan analisis time-series dari kurun waktu 2007 hingga 2018, untuk melihat dampak penggunaan vape terhadap peningkatan angka perokok .
Menurut ahli dari Department of Behavioural Science and Health, University College London Emma Beard, temuan tersebut penting mengingat adanya pandangan yang berbeda-beda di berbagai negara, terutama dari sisi kesehatan.
Pembuat kebijakan menerbitkan aturan yang termotivasi dari adanya pandangan bahwa vape dinilai menjadi gateway yang menghubungkan penggunanya ke rokok konvensional. Namun, ada juga negara yang menggunakan vape sebagai bagian dari kebijakan berhenti merokok.
Studi yang bertajuk “Association of quarterly prevalence of e-cigarette use with ever regular smoking among young adults in England” tersebut menjadi respons terhadap anggapan bahwa produk alternatif menyasar pengguna usia muda, yang dikhawatirkan akan menjembatani mereka untuk menggunakan rokok konvensional.
Baca Juga: Standarisasi Vape Mendesak Demi Melindungi Konsumen
Fakta yang terjadi adalah bahwa vape merupakan jembatan dari pengguna rokok konvensional menuju berhenti merokok. Dengan menyasar kalangan muda berusia 16–24 tahun, studi ini menjadi yang pertama dengan pendekatan analisis time-series dari kurun waktu 2007 hingga 2018, untuk melihat dampak penggunaan vape terhadap peningkatan angka perokok .
Menurut ahli dari Department of Behavioural Science and Health, University College London Emma Beard, temuan tersebut penting mengingat adanya pandangan yang berbeda-beda di berbagai negara, terutama dari sisi kesehatan.
Pembuat kebijakan menerbitkan aturan yang termotivasi dari adanya pandangan bahwa vape dinilai menjadi gateway yang menghubungkan penggunanya ke rokok konvensional. Namun, ada juga negara yang menggunakan vape sebagai bagian dari kebijakan berhenti merokok.
Lihat Juga :