Pintar Merawat, Harga Burung Bisa Melesat hingga Miliaran

loading...
Pintar Merawat, Harga Burung Bisa Melesat hingga Miliaran
Foto: dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Burung kicau kini tak sekadar penghibur atau hobi, tetapi sudah memiliki nilai bisnis. Dibeberapa daerah di Pulau Jawa bermunculan peternak atau penangkar burung kicau dari beragam jenis. Umumnya yang diternak atau tangkar adalah burung-burung lokal. Murai batu, punglor, kacer hingga cucakrawa atau dikenal dengan cucakrowo.

Rudi Jos Hartono tampak sibuk merapikan puluhan sangkar burung saat dihubungi Koran SINDO melalui sambungan video call kemarin. Sesekali terdengar suara kicauan melengking dan merdu dari seekor murai batu yang dipeliharanya sejak lima tahun silam.

Jos, begitu dia akrab disapa, sudah menggeluti hobi burung kicau sejak 23 tahun silam. Jawa Timur merupakan provinsi dengan penghobi burung kicau atau kicau mania terbesar. Bahkan di provinsi ini ada ratusan komunitas yang membentuk wadah klub pencinta burung berkicau. Selain sekadar hobi, burung kicau kini juga menjadi bisnis.

“Sekarang yang sedang populer burung murai batu. Peminatnya banyak karena burung jenis ini memiliki suara yang merdu dan postur yang eksotis,” ucap pria 46 tahun asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu. (Baca: Dirumahkan? Coba Peluang Usaha yang Ditawarkan Startup Ini)

Selain dikenal sebagai juri lomba burung kicau tingkat nasional, di Jawa Timur Jos juga dikenal piawai merawat burung. Beberapa pengusaha di Jawa Timur mempercayakan burung kicaunya untuk dirawat dan dipelihara. “Banyak yang titip untuk dirawat. Biasanya jika performanya sudah bagus, diambil pemiliknya lalu dijual,” ujarnya.



Meski tak mendapatkan bayaran saat merawat, Jos kerap mendapatkan komisi saat burung yang dipeliharanya terjual dengan harga mahal. Dia pernah memiliki dan merawat burung kacer yang dibeli seharga Rp650.000 dari sebuah klub penghobi burung kicau di Pandaan, JawaTimur. Setelah dirawat sekitar satu tahun, burung tersebut diikutkan lomba kicau tingkat nasional di Batu, Malang.

“Saat itu kompetitornya kacer seharga ratusan juta. Seperti kacer raja rimba dari Jember dan kacer suropati asal Bekasi. Tapi burung milik saya jadi juara,” ungkapnya. Alhasil, kacer miliknya dibeli oleh Johan Halim, pengusaha asal Malang, senilai Rp125 juta.

Selain Kacer, Jos pernah beruntung saat memelihara burung anis merah. Burung yang memiliki populasi besar di Pulau Dewata, Bali, itu dibelinya Rp2 juta. Setelah dirawat sekitar satu setengah tahun, burung tersebut dibeli oleh Cahyo Matrix, seorang pengusaha rokok asal Malang yang juga penghobi burung.

“Dibeli Rp100 juta, saya dengar sekarang harganya sudah Rp400 juta dan diminati oleh pengusaha asal Tasikmalaya,” tuturnya. Yang paling mahal, ungkap dia, burung murai batu bernama Robinson milik pengusaha asal Sidoarjo. “Pemiliknya membeli dengan barter Toyota Alphard. Burung yang sering menang lomba harganya ratusan juta hingga miliaran," paparnya. (Baca: Ekonomi Jabar Anjlok, Ridwan Kamil Minta Belanja Rutin Dimaksimalkan)

Hal yang membuat harga burung mahal, kata Jos, karena burung tersebut kerap memenangi lomba tingkat nasional. “Jadi tidak sekadar bersuara merdu, tetapi juga sering diikutkan kontes atau lomba tingkat nasional sehingga kualitasnya benar-benar teruji. Juga dirawat dengan cara yang benar,” paparnya.



Jos mengibaratkan pemain sepakbola yang dihargai mahal karena performanya di lapangan. “Jika tidak pernah ikut kontes, mana bisa burung itu jadi dikenal dan berharga mahal,” ujarnya.

Saat ini Jos dipercaya pengusaha asal Sumenep, Madura, untuk merawat seekor crendet atau pendet. Burung tersebut dibeli oleh pemiliknya lewat barter dengan satu unit mobil jenis low MPV baru.

“Sekitar Rp200 juta lebih. Itu enam tahun lalu. Sekarang ditawar tiga kali lipatnya, tetapi yang punya belum mau lepas,” paparnya.

Jos mengungkapkan, menangkar burung berpredikat juara juga menguntungkan bagi orang yang ingin memulai bisnis. Sebab, kini para penghobi burung rela mengeluarkan uang untuk membeli burung tangkaran dari indukan juara.

Cucakrawa misalnya, untuk kategori anakan bisa dihargai Rp30 juta per ekor. “Namun, burung ini langka, posturnya gagah dan suaranya mantap. Jika dirawat dengan baik dan sering menang lomba, harganya bisa miliaran,” ungkapnya.

Meskipun menguntungkan, para penghobi dan penangkar burung berkicau tetap memperhatikan kelestarian ekosistemnya di alam. Para penangkar umumnya melepas sepertiga dari burung yang ditangkarnya untuk dikembalikan ke alam bebas. (Lihat videonya: Melanggar Protokol, 31 Perkantoran Ditutup Sementara)

Para penangkar juga harus melapor dan mendapatkan izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). “Tetap harus memperhatikan ekosistemnya sehingga tidak punah. Petugas BKSDA juga melakukan penyuluhan dan pengawasan secara berkala,” ucapnya. (Anton C)
(ysw)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top