30 Prediksi Konsumen di NEW Normal (2)
Sabtu, 09 Mei 2020 - 10:30 WIB
loading...
Yuswohadi. Foto/Istimewa
A
A
A
Yuswohady
Managing Partner Inventure
Covid-19 telah mengubah perilaku konsumen dengan sangat ekstrim, mendasar, dan super cepat. Perubahan yang harusnya berjalan selama lima tahun kini kini "dimampatkan" hanya dalam 2-3 bulan. Akibatnya konsumen jungkir-balik beradaptasi menuju kenormalan baru (new normal).
Bagaimana kira-kira kondisi perilaku konsumen di kenormalan baru saat pandemi telah lewat? Seperti telah saya uraikan dalam kolom minggu lalu, total ada 30 prediksi dimana 15 di antaranya sudah saya jelaskan, dan berikut ini adalah 15 prediksi sisanya. (Baca: 30 Prediksi Konsumen di New Normal (1))
#16. Jamu Is the New Espresso
Jamu menjadi minuman yang paling banyak dicari saat ini. Ketika para ahli mengatakan bahwa mpon-mpon yang merupakan bahan dasar minuman jamu dapat menangkal virus Covid-19, jamu langsung laris manis di pasaran. Wabah Covid-19 menjadikan jamu sebagai lifestyle. Jamu is the new espresso.
#17. Halal (Thoyyiban) Becomes Mainstream
Kita tidak tak akan pernah lupa dengan kota Wuhan terutama pasarnya yang menjadi awal mula penyebaran virus. Khususnya kaum muslim, bayangan muram pasar Wuhan adalah wujud dari penyiapan dan pengolahan makanan yang tidak mengikuti prinsip-prinsip halal dan thoyyiban. Maka Covid-19 pun membawa hikmah bagi kaum muslim, yaitu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya halal dan thoyyiban.
#18. Paylater Solution
Di tengah kecemasan dan ketidakpastian akibat Covid-19, sebisa mungkin konsumen membatasi atau menunda pengeluaran yang bersifat cash. In time of crisis cash is king. Maka layanan paylater yang diberikan oleh bank, perusahaan fintech, dan platform ecommerce seperti GoPay, OVO, atau Tokopedia menjadi solusi bagi konsumen untuk berbagai transaksi.
#19. The Future of Traveling
Bahkan ketika ancaman virus terus mengintai, kita tetap akan berlibur tapi dalam situasi dan kondisi yang bisa dikontrol dan tak terpapar virus. Travellers kian sadar melakukan self social distancing. Karena itu staycation dan wellness tour akan menjadi pilihan. Travelling kian menjadi aktivitas individual bukan lagi grup. Niche tourism lebih berkembang daripada mass tourism. Dan virtual tourism dengan teknologi VR (virtual reality) akan berkembang pesat.
Managing Partner Inventure
Covid-19 telah mengubah perilaku konsumen dengan sangat ekstrim, mendasar, dan super cepat. Perubahan yang harusnya berjalan selama lima tahun kini kini "dimampatkan" hanya dalam 2-3 bulan. Akibatnya konsumen jungkir-balik beradaptasi menuju kenormalan baru (new normal).
Bagaimana kira-kira kondisi perilaku konsumen di kenormalan baru saat pandemi telah lewat? Seperti telah saya uraikan dalam kolom minggu lalu, total ada 30 prediksi dimana 15 di antaranya sudah saya jelaskan, dan berikut ini adalah 15 prediksi sisanya. (Baca: 30 Prediksi Konsumen di New Normal (1))
#16. Jamu Is the New Espresso
Jamu menjadi minuman yang paling banyak dicari saat ini. Ketika para ahli mengatakan bahwa mpon-mpon yang merupakan bahan dasar minuman jamu dapat menangkal virus Covid-19, jamu langsung laris manis di pasaran. Wabah Covid-19 menjadikan jamu sebagai lifestyle. Jamu is the new espresso.
#17. Halal (Thoyyiban) Becomes Mainstream
Kita tidak tak akan pernah lupa dengan kota Wuhan terutama pasarnya yang menjadi awal mula penyebaran virus. Khususnya kaum muslim, bayangan muram pasar Wuhan adalah wujud dari penyiapan dan pengolahan makanan yang tidak mengikuti prinsip-prinsip halal dan thoyyiban. Maka Covid-19 pun membawa hikmah bagi kaum muslim, yaitu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya halal dan thoyyiban.
#18. Paylater Solution
Di tengah kecemasan dan ketidakpastian akibat Covid-19, sebisa mungkin konsumen membatasi atau menunda pengeluaran yang bersifat cash. In time of crisis cash is king. Maka layanan paylater yang diberikan oleh bank, perusahaan fintech, dan platform ecommerce seperti GoPay, OVO, atau Tokopedia menjadi solusi bagi konsumen untuk berbagai transaksi.
#19. The Future of Traveling
Bahkan ketika ancaman virus terus mengintai, kita tetap akan berlibur tapi dalam situasi dan kondisi yang bisa dikontrol dan tak terpapar virus. Travellers kian sadar melakukan self social distancing. Karena itu staycation dan wellness tour akan menjadi pilihan. Travelling kian menjadi aktivitas individual bukan lagi grup. Niche tourism lebih berkembang daripada mass tourism. Dan virtual tourism dengan teknologi VR (virtual reality) akan berkembang pesat.
Lihat Juga :